wonderful stuff

Hi!

I’ve been looking for some stuff and accidentally come across that wonderful stuff. I’m sure you’re going to like it read more

All best, Disaster Oasis

Sent from Mail for Windows 10

Posted in Uncategorized | Leave a comment

✈Fw: new message

Hey friend,

Please take a look at some nice things I’ve picked for you, I just love them) Here, check this out http://www.gentlegiantsrescue-blind-dogs.com/integration.php?0d0c

Good wishes, Disaster Oasis

Posted in Uncategorized | Leave a comment

the best of its kind

Hey,

I found that amazing stuff and I can tell it’s the best of its kind, just take a look message

Kind regards, Disaster Oasis

Posted in Uncategorized | Leave a comment

creative mind

Hello friend,

I’ve recently met my old friend, he turned out to be a very creative person, you may read more about him here continue reading

Disaster Oasis

Posted in Uncategorized | Leave a comment

interesting story

Dear friend!

I’ve read an interesting story recently, you’ll definitely like it too. Please take a look website

Yours sincerely, dioskm21

Posted in Uncategorized | Leave a comment

how you’re doing?

Hi,

Just wanted to say hi and ask how you’re doing? I’m OK, you may read my latest article here http://jufyntypre.uptowntodowntown.com/lnpwkcwc

Bests, dioskm21@yahoo.com

Posted in Uncategorized | Leave a comment

good news

Hey,

I’ve got some good news for you, read more about it here http://fendowiba.mechna.com/lnpeg

Thanks for your consideration, dioskm21@yahoo.com

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Fair Distribution of Rice Stock in Citapewa Camp

Mr. Lambertus, as camp coordinator, firmly
said, “The remaining rice stock should be distributed to families in the
camp with certain priority measure”. The issue emerged as there was
dispute amongst IDPs upon the remaining 25 kilos of rice, while the host
village authorities tried to mediate the argument in order to prevent communal
rage.

It began when YEU conducted need assessment in
Citapewa camp, in Niranusa village, on 2 May 2013 and gathered data from 32
households with total 148 IDPs who constantly stayed in the camp with
occasional visit to Palue
Island (origin of all
IDPs). YEU team returned to the camp on 18 May 2013 with rice stock for the
aforementioned number of IDPs. Apparently the number increased into 37 households
with total amount of 160 IDPs. This
incident led to disappointment of those who were not included in the previous
assessment which according to camp coordinator was due to several occurrences;
first is the arrival of new displaced family from Palue Island to the camp on
17 May, and second is 4 families who already constructed temporary houses next
to Citapewa camp and wanted to be acknowledged as part of IDPs.

Dispute over rice stock was unavoidable since
each party has their own arguments; for those who have not included in the
data, they asked for the equal fulfilment of basic need in times of emergency,
while for those who already stayed for long strongly believe that they should
be given the amount of rice according to the initial assessment. This sentiment
grew worse as a reflection that there is not enough space for assimilation
amongst IDPs coming from different villages and different time of arriving in
Citapewa.

Niranusa village authority shouted to call the village
elderly, Mr. Gege, to solve the problem. Another person said that once they called
Mr. Gege as Mosa Laki, or the traditional leader who has control over the area,
it was feared that all IDPs would be expelled from the village due to this
argument. Mr. Ibnu Subroto from YEU explained that there is no intention to
start an argument because of the rice distribution.

Mr. Muarif, one of village authorities present
in the site, later firmly stated that for the sake of everyone’s need, the
decision to arrange the distribution should rest on the village authority who
hosted the camps with the support from the camp coordinators.

Finally, they reach to the agreement that all
IDPs, regardless their origins in the island or the timing they arrive in the
camp, should get equal sharing 2 kg per person for 5 days. So, they still can
get the support nutrition intake of 400 gram rice per day. In the initial
scenario, YEU planed to distribute 3 kg for 6 days. As many as 320 kg have been
distributed to all 160 IDPs, with the excessive 25 kg were given to families
with under-five babies who needs additional nutritional intake.

The agreement was well accepted by all parties,
and this particular experience has laid
foundation for communication amongst IDPs for better assimilation, as well as strengthening
the role of the village authority in the issue. The experience also highlighted
the need to create space for each party to convey their opinion and to accommodate
IDPs participation in the process.

(Ibnu Subroto & Tina S./Maumere)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Sosio-Pastoral – (Relevansi pendekatan praktis pastoral dengan konteks Lokal)

Sosial Masyarakat

Masyarakat Lhokpuuh di Aceh Utara dapat menerima kenyataan kehilangan orang-orang yang mereka cintai dalam peristiwa konflik TNI-GAM dan Gempa -Tsunami tahun 2004 sebagai suatu takdir. Pemahaman tentang takdir membantu masyarakat untuk merelakan atau mengiklhaskan semua pengalaman kedukaan yang mereka alami. Peristiwa yang mereka alami merupkan ijin Tuhan. Setiap orang memiliki takdir yang berbeda-beda dan jika saat ini masih diberikan kesempat untuk menikmati hidup berarti Tuhan sudah mentakdirkan semua seperti itu.

Tidak jauh berbeda dengan masyarakat Jogyakarta, peristiwa gempa bumi tahun 2006 meninggalkan kesedihan yang mendalam namun bagi mereka, persaan Nrimo menjadi kekuatan untuk menerima pengalaman kedukaan yang mereka alami.

Pengalaman ini harus diterima dengan lapang dada dan apa adanya, namun hal ini sedikit berbeda dengan masyarakat Munte Baru-baru di Mentawai yang sangat sulit menceritakan peristiwa kehilangan anggota keluar kepada orang lain karena dianggap tabu. Menanyakan nama anggota keluarga yang hilang atau menanyakan jumlah keluarga yang hilang merupakan pertanyaan yang berat dan melukai perasaan sehingga pengalaman duka seberat apapun akan dialami sendiri tanpa orang lain harus tahu.

Lain halnya dengan masyarakat Wondama di Papua Barat, peristiwa banjir bandang tahun 2010 merupakan teguran kepada manusia untuk menjaga alam yang merupakan warisan nenek moyang. Pengalaman kehilangan merupakan pengingat bagi semua orang untuk kembali mengintropeksi diri dan menghargai semua sumber daya yang disediakan alam bagi masyarakat, tanah dan kekayaan alam adalah “mama” bagi masyarakat Papua secara umum.

Keempat komunitas diatas menjelasakan setiap masyarakat memiliki karakteristik yang berbeda-beda dalam memandang dan memaknai sebuah peristiwa kedukaan. Budaya dan kepercayaan sangat mempengaruhi cara pandang dan pemahaman suatu masyarakat tentang pengalaman kedukaan. Pemahaman tentang takdir, nrimo, teguran dari Tuhan merupakan bukti bahwa budaya dan kepercayaan tidak dapat dipisahkan, keduanya telah melebur menjadi budaya baru. Budaya tidak bisa dipahami tanpa memahami kepercayaan setempat, demikian juga sebaliknya kepercayaan tidak bisa dipahami tanpa memahami budaya sebab kedua hal ini sangat berhubungan erat sehingga Jika ingin memahami sebuah masyarakat maka perlu memahami sosial masyarakat yaitu memahami budaya dan kepercayaan setempat.

Sosio Pastoral

Kepercayaan dan budaya sudah dimiliki masyarakat bertahun-tahun, berproses dan berkembang, mengalami benturan dan kemudian mengalami penyesuaian membentuk sebuah mekanisme sosial dalam menyelesaiakan masalah-masalah sosial termasuk rasa duka dan kehilangan. Mekanisme sosial tersebut merupakan inkluturasi dari kepercayaan dan budaya setempat untuk menyelesaikan perasaan kedukaan atau kehilangan

Fakta bahwa semua komunitas memiliki kepercayaan dan budaya yang terbentuk dari konteks setempat sehingga dalam kondisi apapun semua komunitas tentu memiliki mekanisme pengelolaan pengalaman kedukaan termasuk masyarakat Monte Baru-baru di Mentawai pun memilik mekanisme pengelolaan rasa dukan dan kehilangan.

Peristiwa konflik, tsunami, banjir, gempa bumi dan lain sebagainya meninggalakan perasaan kehilangan dan kedukaan dan semua pihak berbondong-bondong atas nama kemanusiaan menawarkan model/pendekatan yang dianggap obat manjur untuk dapat menghilangkan rasa duka atau kehilangan tanpa disadari bahwa tawaran obat tersebut sedang membunuh mekanisme lokal yang sudah ada bertahun-tahun. Jika semua pendekatan dari berbagai pihak atas nama kemanusiaan yang menekankan pada sustainability (membentuk mekanisme coping), pertanyaannya yang mana yang lebih sustain, apa pendekatan baru dan asing atau pendekatan lokal yang sudah digunakan bertahun-tahun?

Memang pendekatan lokal bukan barang instan yang sudah tertulis dengan langkah-langkah kongkrit dan tinggal menggunakannya namun perlu upaya untuk mencari, menemukan, menggerakan dan memaksimalkan. Menemukan pemahaman sosiomasyarakat, menggerakakan peran-peran sosial dan media-media sosial dan kemudian memaksimalkan peran dan media menjadi sebuah mekanisme pertahanan diri yang mandiri dan sustain

Pengalaman masyarakat Lhokpuuh, masyarakat Tangkil, masyarakat Munte Baru-baru dan masyarakat Wasior menunjukan bahwa semua masyarakat memiliki dan mampu melalui semua pengalaman kedukaan atau perasaan sedih yang dialami akibat bencana dan bukan semata karena pendekatan baru yang dibawakan oleh pihak luar yang membantu. Mekanisme sosial yang ada merupakan inkulturasi kepercayaan dan budaya setempat, masyarakat Lhokpuuh dan Tangkil yang kental dengan keIslaman, masyarakat Munte Baru-baru dan Wasior yang kental dengan keKristenan. inkulturasi tersebut merupakan sebuah pendekatan sosio pastoral sesuai dengan konteks lokal.

Pendekatan Sosio pastoral merupakan pendekatan yang membangun mekanisme coping dan memastikan sustainabilty karena mendorong dukungan sosial dari masyarakat setempat sebagai upaya menjaga nilai-nilasi sosial dan juga mendorongan setiap orang mampu dan saling mendukung mengelolah pengalaman duka.

Wasior,05 Agustus 2012
Arnice Ajawaila

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Berkah Rokatenda adakah untuk kami?

Gunung Rokatenda yang memiliki ketinggian 875 meter sudah meletus beberapa kali sejak Oktober 2012 sehingga menghabiskan ternak ku, ladangku dan rumahku. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi kecuali keluargaku yang masih setia bersama ku untuk melanjutkan hidup. Sepantasnyakah kami mendapatkan bencana ini?
Apakah kami tidak boleh bertahan hidup?apakah kami tidak boleh menikmati hidup kami untuk berladang dan mencari ikan lagi?ya, kami ingin sekali melakukan itu semua toh itu memang nafkah kami sehari-hari. Kami bingung harus memulai dari mana?Yang utama adalah kejelasan kami akan tinggal di mana selanjutnya belum ada keputusan dari Para Penguasa karena kami sudah berbulan-bulan lari ke sana lari ke sini, hidup di pengungsian satu ke pengungsian yang lainnya. Banyak saudara kami yang memutuskan hidup bersama keluarganya, itu semata-mata untuk mendapatkan tempat yang lebih layak tapi aku tahu pasti itu juga menjadi beban keluarga yang di tinggali.
Lalu apakah kami tidak boleh berteriak?ketika kami terkena dampak erupsi gunung Rokatenda, saudara-saudara kami di ibukota yang terkena banjir yang siklusnya tahunan saja semua mata memandang kepada mereka, bantuan makan tidak habis-habisnya, bahan makanan tidak akan habis untuk berbulan-bulan. Ketika banjir surut, mereka bisa kembali dan menempati rumah mereka hanya saja memang harus kerja ekstra untuk membersihkan rumah, tetapi rumah mereka tidak hancur atapnya terkena abu vulkanik. Akses mereka terhadap sumber penghidupan sangat mudah. Kami?bertahan hidup itu pasti, kami tetap berusaha untuk mendapat penghasilan, memang suami kami banyak yang di perantauan, tetapi bairlah mereka bekerja dengan tenang untuk kehidupan kami ke depan, kami rela berjualan bensin di depan pengungsian, kami rela bekerja di ladang orang lain dengan upah Rp 25,000 untuk bekerja selama 7 jam, itu kami lakukan untuk kembali bangkit dari keterpurukan ini. Jadi, tolong kami untuk beberapa waktu yang tidak ada ketentuan pasti dari pihak yang bisa memberikan informasi. Jangan bedakan kami, bukankah hak untuk hidup adalah hak untuk semua manusia?ya kami manusia juga.
Tuhan Yang Maha Kuasa yang mengijinkan kami hidup di era siklus 30 tahunan erupsi gunung Rokatenda. Kami yakin masa depan cerah ada di depan mata, berkah Rokatenda pasti ada untuk kami. (Tna)

Posted in Uncategorized | Leave a comment