Merapi semalam dan hari ini: Catatan Dirlak dari Harjobinangun

Kemarin  4 Nov,  begitu  ingin aku mengakhiri  pekerjaan rutin kantor, dan segera ke SMP-3 Pakem,  untuk memberi selamat atas kerja baik teman-teman YEU  dalam evakuasi kemarin yang diliput live Tvone, sekaligus melihat  kondisi barak baru yang ditinggali Pengungsi.   Namun karena banyaknya tugas mendesak, Jam 5 kami baru berangkat  dari Solo, bagi  tugas, saya ke Pakem, Mas ananias dan teman-teman KY ke Selo dan Magelang.   Hujan menyertai perjalanan kami , mulai di cangkringan  hujan mulai bercampur debu, namun jarak pandang masih pendek.
 
Sesampai  di SMP3 ,  teman-teman YEU sedang berkoordinasi dengan  para koordinator barak,  problem solving    pemenuhan kebutuhan pengungsi  hari ini dan rencana besok.  Dari situ saya menyaksikan bahwa  mereka “bedol  barak” dari dios ke  SMP3  bukan hanya membawa  orang, tetapi sistem manajemen barak yang partisipatif  yang sudah dibangun sejak 6 hari mereka tinggal di Dios. 

Teman-teman berusaha  agar  di tempat baru, standard pelayanan barak,  harus mendekati  apa yang diberikan di dios.   Para donatur  pensuplay makan  juga  mengikuti  evakuasi  ini, artinya mereka terjadwal  untuk mensuplay  makan 3 X sehari, walau  problemnya kadang terlambat,  lauk pauk juga tak standard kadang baik-kadang kurang.  Jumlah selalu cukup,  problem  kadang  berlebihan. 

Namun demikian kita tetap mempertahankan sistem drouping  nasi bungkus ini, karena banyak melibatkan partisipasi antar masyarakat  sebagai bentuk solidaritas bagi sesamnya. Untuk itu teman-teman  mulai  menyiapkan  PLT ( pemberian lauk tambahan)  apabila kualitas  nasi bungkus kurang,  PNT (pemberian nutrisi tambahan) untuk bayi,  ibu hamil  dan ibu menyusui,  dan juga  kontrol  kualitas nasi bungkus agar tidak terjadi keracunan masal karena basi dll. 

Selain itu juga dilaksanakan  PGP (pemberian  ganjal perut) berupa snack / makanan kering  untuk mengisi perut  untuk mengatasi terlambatnya nasi bungkus  dari para donatur. Sungkan untuk  menolak  tambahan nasi bungkus  merupakan problem tersendiri,  seperti yang saya lihat disana ada kelebihan 300 bungkus. 

Untuk itu  teman-teman selalu  berkomunikasi antar barak, dan kelebihan  nasi bungkus segera disalurkan  agar tidak dibuang atau  basi.  Dari pengamatan itu, saya makin diyakinkan bahwa perpective  demokrasi dan partisipasi, gender maintraiming,preparedness  bisa diterapkan bahkan dalam situasi awal emergency response.

Setelah koordinasi dengan para koordinator barak, jam 21.00  walau  sudah loyo, kami ajak teman-teman  untuk berkoordinasi .  Prioritas utama adalah merespons  kesepakatan hasil rapat koordinasi  barak, pembelajan dari proses yang sudah berjalan- diperhadapkan dengan  contingencies plan, standard  pelayanan dan SOP.  

Proses evakuasi  kemarin  sangat menarik ketika diperhadapkan dengan SOP, karena ada sedikit  penyesuaian  dari sisi komando  evakuasi. Dalam SOP disepakati bahwa komando  evakuasi adalah dari Pos Pusat   Hargobinangun; namun  yang terjadi adalah  atas  inisiatif SITE MANAGER, yang  berdasarkan  informasi  lapangan  memerintahkan Evakuasi  tanpa harus menunggu perintah dari Posko Pusat  dan Pak Kepala Desa.  

Walau saat itu  tidak semua staff paham kenapa diputuskan evakuasi, tetapi code of conduct   bahwa  komando site manager harus dilaksanakan, maka  evakuasipun dapat dilaksanakan, dengan sangat effective , 10 menit Dios kosong,  tak ada kepanikan, dan 30 menit  sudah menempati  tempat aman, lalu dalam waktu 12 jam sistem lama dapat dilaksanakan di tempat baru. Sungguh luar biasa !!.   “ 

Sebagai staff paling senior,  yang bertanggungjawab menyusun SOP, saya sebenarnya  keberatan, kenapa  perintah evakuasi  ini  sedikit melenceng dari SOP, namun  mentaati perintah Site manager adalah juga bagian dari SOP, dan saya tidak membayangkan kalau mereka masih di Dios, mereka pasti sudah kocar-kacir ketika mendengar suara gemuruh  yang terus menerus sejak jam 2 siang tadi dengan sesekali hujan pasir ,  saya senang kita berada di tempat  aman sekarang“  Kata Agung, satu dari tiga staff yang mengawali berdirinya YEU. 

Memang dari  aula SMP 3, suara gemuruh sering kita dengar, sampai menggetarkan kaca-kaca kelas; tentunya   di Dios  suara gemuruh makin keras  dan bisa membuat  pengungsi panik, dan tak terkendali. Untung kita sudah melaksanakan evakuasi.

Bagi YEU menangani  bencana adalah pekerjaan harian, sehingga kami selelu berusaha makin hari makin profesional, dengan lebih menguatkan sistem  bukan perasaan. Namun  demikian rupanya pekerjaan emergency response  bukanlah pekerjaan  yang bisa secara total di profesionalkan, karena variabel  emosi dan keterpanggilan  pelayanan  tanpa pamrih justru merupakan sumber energi utama  untuk keberhasilan pekerjaan humanitarian.

Kami sudah mengatur  staff agar, staff menjaga diri  baik keselamatan dan kesehatannya, namun selalu tidak bisa; karena staff selalu ingin  all out dalam memberikan pelayanan. Sayapun selalu menggunakan kesempatan saat kritis  emergency menjadi  bagian dari “pesta rohani”  yang membuat kita menyesal kalau tak  melibatkan diri. “ Kenikmatan pelayanan” ini juga makin diminati oleh istri dan anak saya,  kebetulan  malam kemarin ulang tahun Galed, dia  begitu bahagia dapat merayakain ulang tahun ke-15   bersama pengungsi.

Non 5, Jam 1 dini hari  kami sampai di solo,   beberapa saat kemudian saya dapat SMS bahwa Merapi meletus kembali,  barak di SMP3  dievakuasi  ketempat yang lebih aman oleh pihak militer,  jarak aman menjadi 20 Km,  jalan kaliurang hujan pasir dan kerikil.   Puji Tuhan, Syukur Alhamdulilah  semua pengungsi selamat  dan dapat tempat aman di  Aula seminari  kentungan.  Jam 12.00 perumahan  CD Bethesda di Kencuran  dievakuasi .  

Mas ananias melaporkan bahwa  Desa-desa yang menjadi  pemantauan  CD Bethesda di  klaten juga dievakuasi, demikian juga desa-desa daerah pemantauan KY di Sawangan dievakuasi ke Magelang, demikian juga  yang di Boyolali.  PRY yang menampung 60 pengungsi  anak-anak  mental retarded masih bingung kemana harus mengevakuasi anak-anak yang perlu penanganan khusus tersebut.   

Pagi ini diberitakan ada 8 lagi orang dinyatakan meninggal,  sehingga total 51 orang. Jumlah pengungsi  makin berlipat ganda, beban  YEU dan Extramurral makin berat , sementara resources makin terbatas,  untuk perlu dukungan semua unit  dan stake hoder Yakkum. Kita akan berkoordinasi hari ini jam 13.00 di RS.Bethesda,mohon kehadirannya ( SW)

About oaseindisasters

Oase in Disaster - Yakkum Emergency Unit This blog is official blog of Yakkum Emergency Unit Member of ACT Alliance and Member of Humanitarian Forum of Indonesia. The contents of this blog covers the YEU's activities related to emergency responds activities in Indonesia. Currently, we are working in emergency respon in three different areas; to respond Wasior flash-flood affected people in Manokwari, West Papua, tsunami-Mentawai affected people in Mentawai, West Sumatera, and Merapi Volcano Eruption in Central Java and Yogyakarta. At the national level, we are coordinating within the network of Humanitarian Forum of Indonesia (HFI) and at the International level we're coordinating with Global Network for Disaster Reduction and ACT Alliance. Email: yeu@yeu.or.id Follow us in twitter @yeu2001 www.yeu.or.id www.actalliance.org www.humanitarianforumindonesia.org
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s