Catatan Emanuel Emergency Team: Yankes di Magelang

12345
Sabtu, 06 November 2010

‘EET-4’ berangkat jam 07.30 dari RSE mengendarai ambulance biru. Saran teman yang malam sebelumnya ke Jogja melalui Muntilan, sebaiknya kami tidak mengambil jalan Salaman-Borobudur-Muntilan karena jalanan licin berlumpur dan banyak pohon tumbang menutup badan jalan. Kami sempat bimbang dengan saran teman tadi tapi dengan pertimbangan jarak tempuh yang paling dekat, kami tetap melewati route ini. Melalui jalanan berlumpur dan pohon-pohon yang berserakan di jalan khususnya dari Salaman sampai Borobudur, dengan ekstra hati-hati kami berhasil lalui.

Jam 12.45 sampai di posko Kampus SMKN 1 Salam Magelang. Dilakukan koordinasi dengan ‘EET-3’, Puskesmas Srumbung (dr. Harda dan Bidan Sri Utami) dan tim RSK Ngesti Waluyo Parakan serta Manajer Area (mas Robby). Hasil: 
1. Pos Pengungsian di SMKN 1 Salam Magelang dinyatakan tidak aman (walaupun di luar radius 20 KM dari puncak Merapi) namun berada di sebelah ‘Sungai Putih’ yang bermuara di Gunung Merapi sehingga potensial terjadi banjir lahar dingin jika curah hujan tinggi. Selama di pengungsian ini, pernah terjadi luapan air sungai yang cukup tinggi. 
2. Dibacakan surat dari Puskesmas Salam yang intinya meminta timkes RS Emanuel (EET) tetap stay di pos pengungsian SMKN 1 Salam. Berdasarkan surat tersebut maka lokasi pengungsian di SMKN 1 Salam yang masih dihuni beberapa puluh jiwa, didampingi timkes RSK Ngesti Waluyo sambil menunggu timkes PMI yang akan segera datang. Timkes RSK Ngesti Waluyo selanjutnya akan stay di SD Seloboro yang berada sekitar 1-2 KM dari SMKN 1 Salam.
3. EET memindahkan poskonya mengikuti kelompok pengungsi yang paling banyak yakni dari Desa Srumbung di lokasi Barak Latihan Akademi Militer (Lapangan Tembak Akmil) yang berada di desa Ngadirejo Kecamatan Salaman. 
4. Logistik dari YEU yang dibawa mas Robby (air mineral, roti, beras 7 karung, susu untuk relawan) disepakati dibagi 2 antara EET dengan timkes RSK Parakan baik yang untuk pengungsi maupun untuk relawan.
5. Informasi dari mas Robby: 
a. Perlu mulai dipikirkan peran CD untuk menjawab masalah pasca bencana dengan fokus pemberdayaan masyarakat. Nanti malam (6-11-10) akan diadakan rapat dengan Bp.Sigit untuk melihat dan menganalisis persoalan sosial yang muncul pasca bencana. 
b. Mengingatkan timkes untuk mencari solusi tidak meninggalkan poskes terlalu lama misalnya untuk mencari makan relawan.
c. Perlu memberdayakan masyarakat pengungsi untuk updating data pengungsi sehingga diharapkan ada mekanisme perhitungan yang akurat. Selama ini kinerja tim YAKKUM dalam melayani masyarakat korban bencana tidak tampak dalam angka, berapa jumlah pengungsi yang tertangani dsb.
d. Sudah ada pertemuan antar pimpinan YAKKUM yang melihat model kerja ke depan, termasuk pasca emergency selesai. Ada wacana dilanjutkan dengan fokus “community development/organization”.

EET pindah tempat ke posko ke tiga setelah Kantor Desa Srumbung dan SMKN 1 Salam dan tiba di area barak-barak latihan militer menjelang magrib. Area cukup luas dilengkapi dengan fasilitas yang cukup lengkap. Pengungsi dengan jumlah mendekati angka 4000 jiwa (3984 jiwa) ini menempati 7 (tujuh) barak militer yang sebenarnya kurang mampu menampung pengungsi sejumlah itu. Namun jika dibandingkan lokasi pengungsian sebelumnya yakni di SMKN 1 Salam dengan fasilitas yang serba kurang, baik air maupun penerangan, lokasi ini dirasakan pengungsi sebagai lokasi pengungsian yang paling baik. Di area ini ada 2 kompleks MCK permanen yang masing-masing berisi belasan kamar mandi dan WC. 

Kondisi pengungsi secara keseluruhan tampak sudah kelelahan baik fisik maupun psikis. Anak-anak sekolah tidak ada kegiatan belajar-mengajar karena sekolah mereka rusak oleh terjangan hujan pasir di samping lokasinya yang masuk dalam radius kurang dari 20 kilometer. Jarak yang sangat jauh juga tidak memungkinkan berkegiatan di desa asal mereka. Kegiatan satu-satu yang bisa dilakukan mereka hanya duduk-duduk dan tiduran di dalam barak.

Sebagai ‘relawan tamu’, EET berkoordinasi dengan petugas Medis Puskesmas Salaman 2 yang lebih dahulu berada di tempat yakni di lokasi paling dekat dengan jalan Muntilan-Borobudur namun paling ujung bawah dari lokasi tempat pengungsi tinggal. Kenyataan ini mendorong EET menyampaikan usulan untuk berada di samping area pengungsi supaya lebih efektif dan efisien. Agaknya timkes Puskesmas Salaman 2 pun merasa bukan sebagai tuan rumah sehingga mengajak EET menemui timkes Marinir Jakarta yang juga baru saja datang. Dr. Andy dan dr. Made dari timkes Marinir mengajak EET dan Puskesmas bergabung dengan poskes Marinir yang sudah fix tinggal bersebelahan dengan lokasi Puskesmas. EET, melalui Hendro berargumentasi dan bernegosiasi dengan pihak timkes Marinir yang akhirnya bisa berada di area pengungsi. 

Semula EET mengambil tempat di salah satu sudut dalam barak pengungsi namun karena jumlah pengungsi makin lama makin banyak, akhirnya memutuskan pindah di teras Barak IV yang cukup sentral dari barak pengungsi yang lain. Melalui dr. Made, EET minta dipasang tenda ukuran kecil untuk poskes EET. Disetujui dan akan dipasang esok pagi dengan mengambil set tenda yang masih ada di Mertoyudan. 

Informasi dari sebagian pengungsi yang datang siang hari sebelum EET, mereka langsung menerima jatah makan siang dengan jumlah mencukupi, demikian pula sore harinya. Tepat di samping Barak IV, dibangun tenda dapur umum yang semua tenaganya adalah anggota TNI. Pengungsi mendapat jatah makan sehari 3 kali yang disediakan dapur umum atau sumbangan dari luar yang dikoordinir dan berkolaborasi dengan dapur umum yang ada.

Sejak magrib, dengan fasilitas seadanya, EET langsung melayani pasien sampai tengah malam. EET kehabisan beberapa jenis obat, Hendro mencari ke Posko Puskesmas 2 namun tidak ditemukan seorang petugas-pun. Akhirnya dilanjutkan ke Puskesmas 1 Salaman karena posko Marinir belum beroperasi. Menemui Kepala Puskesmas merupakan prosedur yang harus ditempuh untuk mendapatkan beberapa jenis obat yang dibutuhkan EET.  Obat akan diantar ke posko EET oleh pihak Puskesmas. 

Jam 19.00 mendapat telepon dari Sdr Danu RS Panti Wilasa Dr Cipto yang akan bergabung dengan EET. Menurutnya, dengan personil seorang dokter dan 3 orang perawat, oleh mas Robby diminta bergabung bersama EET. Malam itu, timkes RSPW Dr. Cipto kami ajak bergabung melayani di posko EET. 

Jumlah pasien di posko Barak Latihan Tembak Akmil sejak sore: 106 orang. Total pasien yang dilayani EET termasuk di SMKN 1 Salam dalam sehari adalah 413 orang pasien dengan keluhan terbanyak yakni ISPA, Febris, Nyeri Lambung, Gatal-gatal, dan Iritasi Mata.

Sekitar jam 22.00, sementara Eko Sayoko dan Agung  menyelesaikan melayani pasien, bertiga mencari makan malam di Salaman (sate ayam tanpa nasi karena sudah habis sehingga harus mencari nasi rames di warung lain supaya lengkap menjadi nasi rames lauk sate). Dengan fasilitas seadanya, EET memulai malam pertama di Barak Latihan Akademi Militer (Lapangan Tembak Akmil) Salaman Magelang. Sementara teman-teman timkes RSPW Dr Cipto menggunakan mobil APV-nya dan beberapa tidur dengan menelungkupkan kepala di meja, di ambulance 3 orang (Hendro di jok depan, Tania dan Suradjini di brancar belakang) dan 2 orang (Eko Sayoko dan Agung) berada di barak bersama relawan Logistik Marinir. 

Minggu, 07 November 2010

Dibangunkan oleh riuhnya pengungsi yang ‘adu-cepat’ ngantri MCK. Hendro telepon mas Robby mengkonfirmasi kedatangan timkes RSPW Dr Cipto. Mas Robby meminta saya menghubungi dr. Tiniko (Kepala Puskesmas Srumbung, yang kini berkantor di Puskesmas Salam), untuk menempatkan timkes RSPW Dr Cipto sesuai kebutuhan. Dr. Tiniko meminta untuk mengisi di pos pengungsian di Balai Desa Sucen Kecamatan Salam. Timkes RSPW Dr Cipto segera menuju Sucen sementara EET meluncur ke SPBU Salaman yang berjarak sekitar 5 KM untuk mandi dan toileting. Lokasi MCK yang cukup bersih untuk ukuran EET, selanjutnya manjadi SPBU langganan untuk keperluan MCK selama tinggal di Barak Latihan AKMIL Salaman. Sarapan di warung Sumber Rejeki menjadi ritual berikutnya. 

Sampai di posko sudah ditunggu beberapa pasien dan langsung memulai pelayanan. Jam 08.30 sekelompok tentara datang hendak memasang tenda terpal hijau ukuran 4 x 4 meter di teras Barak IV. Dengan fasilitas tenda ini, pelayanan menjadi semakin tertata baik tidak berbaur dengan kerumunan pengungsi. 

EET melihat belum adanya koordinasi pengungsi terlebih setelah berpindah di lokasi pengungsian yang baru ini. Bahkan saat masih di SDN Srumbung 2 –pun, koordinasi formal dilakukan melalui perangkat desa (Kepala Dusun) sehingga pengungsi hanya sebagai obyek yang sekadar menunggu jatah makan dan siap siaga jika harus dievakuasi ke area pengungsian yang lain. Di sela-sela pelayanan medis rutin, EET berusaha menemui beberapa perwakilan barak III, IV, V, VI, VII khususnya yang ditempati oleh warga Desa Srumbung untuk berkoordinasi. Disepakati mengadakan rapat koordinasi antara EET dengan mereka pada jam 20.00 di area Posko EET. 
Jam 20.15 rapat koordinasi dengan perwakilan barak warga desa Srumbung dimulai. Kepala desa mengawali pertemuan dengan menyampaikan:

Informasi terkini seputar Merapi khususnya status AWAS yang masih memerlukan kewaspadaan tinggi warga pengungsi serta terputusnya koordinasi dengan kecamatan sehingga banyak informasi dan kebijakan pemerintah yang belum didengar oleh pihak desa.
Informasi tentang keberadaan EET di desa Srumbung sejak tanggal 28 Oktober tengah malam sampai saat ini. Ungkapan terima kasih atas kesediaan EET yang selalu berada bersama warga desa Srumbung sehingga kesehatan warga dapat terpelihara dan kasus-kasus kegawatan bisa diatasi dengan baik. 

EET yang diwakili oleh Hendro: 
Memperkenalkan EET baik secara tim maupun individu tim yang sekarang bertugas termasuk visi-misi tim merespons kondisi bencana di beberapa tempat.
Menyampaiakan “6 Langkah Penyelamatan Diri” yang merupakan modifikasi ‘8 Langkah Memastikan Keamanan Tim Kesehatan YAKKUM yang sedang Melayani di Garis Depan Pengungsian” berdasarkan sms mbak Arshinta (Direktur YEU) melalui mas Robby siang hari tadi.
Menyikapi bantuan dari luar secara bijak khususnya dari donatur perorangan yang ingin secara langsung membantu para pengungsi supaya tidak timbul dampak negatif. 
Rencana ‘One Day Activity” (ODA) yakni tim RSE yang akan datang sebagai Trauma Healing Team, esok hari. Direncanakan ada kegiatan khususnya untuk kelompok anak sampai remaja-pemuda warga pengungsi Desa Srumbung. Terpilih koordinator kelompok: PAUD s/d kelas 2 SD untuk mewarnai, kelas 3 SD s/d kelas 3 SMP menulis pengalaman mereka seputar bencana Merapi, Kelas SMA untuk sharing tentang ide-ide kegiatan dan keterlibatan mereka khususnya selama di pengungsian.  

Jumlah pasien yang dilayani hari ini sebanyak 183 orang pasien dengan keluhan terbanyak: ISPA, Demam, Gatal-gatal, Iritasi Mata, gangguan Pencernaan, Sakit Kepala (Cephalgia), Pegal Linu (Myalgia), 

Malam ini EET bisa beristirahat di posko (2 orang, Eko Sayoko dan Agung) sementara sisanya memakai ambulance sebagai tempat istirahat mereka. 

Senin, 08 November 2010

Jam 09.00 datang tim ODA terdiri dari: Yayan, Firdaus, Kukuh, Yudi (driver). Mereka membawa perlengkapan mewarnai, mengarang dan snack ringan untuk anak-anak selama berkegiatan. Sayangnya rencana yang sudah disusun, tidak dapat terlaksana karena tidak menemukan tempat untuk kegiatan indoor supaya tidak mengganggu warga pengungsi yang sedang istirahat di dalam barak. EET dan ODA menyepakati membagikan kertas dan fasilitas mewarnai langsung ke barak-barak melalui ibu-ibu informal-coordinator yang sebagian adalah guru dan kader desa. Mereka diminta mengadakan kegiatan mandiri di masing-masing barak. Kegiatan mengarang ditiadakan sedangkan kegiatan dengan kelas SMA dimodifikasi dengan menemui beberapa orang remaja/pemuda dusun Ngepos (Barak IV) untuk menggali masalah dan ide-ide mereka untuk mengisi ‘kekosongan’ waktu selama di pengungsian. 

Siang hari ODA bersama Hendro menemui Supriyanto dan Ririn serta beberapa remaja dusun Ngepos Srumbung di teras Barak IV.  Muncul ide-ide kegiatan seperti: lomba-lomba, olah raga, pentas seni, kerja bakti kebersihan. Disepakati mengangkat kegiatan dan ide-ide ini ke tingkat Karang Taruna Desa Srumbung. Direncanakan hari besok mengadakan rapat koordinasi dengan Pengurus Karang Taruna Desa Srumbung serta perwakilan dusun-dusun yang tinggal di pengungsian. Ririn (aktifis remaja spontan) berinisiatif menghubungi teman-temannya di berbagai barak serta menghubungi ketua Karang Taruna Desa Srumbung.

Jam 19.00 (sepulang makan malam di warung Salaman), datang seorang pasien anak usia belasan bulan dengan Febris Convulsion/Kejang Demam. Kepanikan diantara keluarga dan sebagian pengungsi nampak tatkala pasien kejang-kejang tak sadarkan diri. Setelah dilakukan pertolongan pertama dengan memasang tongue-spatel (dari gagang sendok dibalut kain), pasien dibawa ambulance dengan oksigen terpasang, dirujuk ke Posko Marinir. Kondisi pasien dan terbatasnya fasilitas memutuskan merujuknya lagi ke Puskesmas Salaman 1 masih dengan ambulance EET karena ambulance Marinir dipakai mengantar personil ke kabupaten. Di UGD Puskesmas Salaman 1, pasien diinfus oleh Eko Sayoko dan Agung karena petugas Puskesmas tampak ragu. Selanjutnya pasien dirawat inap. Untuk antisipasi kasus-kasus emergency yang memerlukan tindakan infuse seperti ini, EET melalui Hendro meminta persediaan pediatric infus set ke dokter jaga IGD. Dokter jaga tidak berani memberikan, harus seijin Kepala Puskesmas. Hendro menelepon Kepala Puskesmas dan berhasil membawa 5 set pediatric-infus set untuk persediaan di posko EET dan Marinir.

Bermaksud mengganti rencana memutar film yang rencananya diadakan pagi hari mengawali kegiatan ODA, EET berkoordinasi dengan Kepala Desa Srumbung. Acara dimulai sekitar jam 20.00 dengan pengumuman-pengumuman oleh Kades Srumbung khususnya tentang kondisi Merapi dan langkah-langkah yang perlu diambil oleh warga pengungsi. Film diputar di Barak IV dengan tema ISPA berjudhul “Kebacut Nudhuh” yang dibawakan oleh Den Baguse Ngarsa dan teman-teman. Walaupun durasi hanya 10 menit plus sedikit ulasan tentang penyakit ISPA ternyata waktunya dirasakan tidak tepat karena diadakan di barak pengungsi yang juga digunakan untuk istirahat. Kesepakatan dengan Kades, jika akan diadakan lagi, waktu yang paling tepat adalah selepas magrib. Namun belum ada rencana dekat untuk itu sambil mencari alternatif tempat yang cocok untuk itu. 

Seusai pemutara film di Barak IV, Kades Srumbung dan pak Haryoko (aktivis Dusun Ngepos) bertandang di posko EET sharing seputar kondisi Merapi dan langkah-langkah yang bisa dilakukan. Dalam perbincangan informal disampaikan beberapa hal antara lain:

1. Kegelisahan sebagian besar pengungsi akan masa penantian di pengungsi yang tidak jelas batas waktunya. Ketidak-pastian ini menambah kebingungan mereka akan apa yang akan di perbuat di pengungsian.
2. Pihak pemerintahan desa tidak bisa mencegah warganya untuk menengok rumah tinggal termasuk ladang dan ternaknya, membersihkan rumah serta menyelamatkan barang-barang dan membawanya ke pengungsian. Disarankan membentuk kelompok-kelompok kecil dan menyepakati batas waktu akhir untuk segera kembali ke pengungsian, misalnya dengan kode memukul kentongan
3. Kekhawatiran akan kondisi rumah, ladang dan ternaknya akan sedikit terobati ketika mereka menengok rumah. Namun demikian tidak sedikit yang tidak tahu apa yang bisa diperbuat ketika melihat kenyataan rumah dan ladangnya yang berantakan diguyur hujan pasir beberapa waktu yang lalu. Beberapa orang tidak sempat masuk rumah tinggalnya karena lupa membawa kunci pintu rumah.
4. Pengungsi yang memiliki ladang tanaman salak, merasakan kesediahannya karena saat ini sebenarnya saat panen. Timbunan pasir menumbangkan batang pohon serta menutupi buah salak mereka. 
5. Para buruh penambang pasir juga tidak berani ambil risiko menambang pasir di sungai-sungai ditepi desa disamping tidak tersedianya lahan mereka menambang pasir karena luapan lahar dingin dari Merapi.
6. Para peternak yang sapi dan kambing yang masih bertahan hidup, mengkhawatirkan kondisi ternak mereka jika bencana Merapi tidak jelas waktunya. Tanaman pakan ternak sulit didapat karena sebagian tertutup debu-pasir. Beberapa orang bermaksud minta ijin membawa ternak mereka tidak jauh dari pengungsian supaya bisa dirawat lebih baik. Permohonan ini belum mendapat jawaban dari yang berwajib.
7. Para pengungsi yang berpenghasilan tidak tetap termasuk para petani dan buruh, menginginkan diadakan semacam Proyek Padat Karya yang bisa memberi kesempatan kepada mereka memperoleh sedikit penghasilan untuk membeli sesuatu yang tidak diperoleh selama di pengungsian.

Malam ini EET bisa beristirahat di posko (2 orang, Eko Sayoko dan Agung) sementara 3 orang yang lain memakai ambulance sebagai tempat istirahat mereka. 

Selasa, 09 November 2010

05.30 ambulance mengantar pasien pre-partum (blood-slam) ke Puskesmas 1 Salaman dengan ambulance. 

Setelah mandi dan sarapan, EET memulai pelayanan rutin di posko.

Jam 10.00, sesuai kesepakatan, Hendro memfasilitasi rapat koordinasi dengan perwakilan Karang Taruna dusun se Desa Srumbung. Rapat dihadiri oleh 21 orang utusan pemuda/remaja 9 (sembilan) dusun dari 11 dusun yang warganya ada di pengungsian barak Latihan Akmil. Mereka menyepakati koordinator kegiatan Pemuda/Remaja selama di pengungsian yang dimotori oleh Kelik (Ketua Karang Taruna Desa Srumbung), Supriyanto dan Ririn (aktifis pemuda/remaja dusun Ngepos) . Juga disepakati koordinator lapangan untuk beberapa jenis kegiatan antara lain: Kerja Bakti (Kebersihan Lingkungan barak pengungsian); Olahraga dan Permainan (Volleyball, Sepakbola, Senam Masal, Tarik Tambang, Gobag Sodor); Pentas Seni (musik, menyanyi, mengarang lagu plesetan); Nonton Film Bareng; dll. Disepakati memulai kegiatan dengan kerja bakti membersihkan sampah di sekitar barak sore hari nanti jam 15.30 dimulai dari barak VII menyisir ke arah bawah. Kegiatan semacam ini akan dilakukan pasca kegiatan lomba-lomba yang akan diadakan setiap sore hari.   

Follow up kegiatan selanjutnya akan difasilitasi oleh ‘EET-5’ yang sudah datang jam 11.30 menggantikan ‘EET-4’ yang bertugas sejak Sabtu siang tanggal 6 November 2010.

Selama stay di posko Barak Latihan Akademi Militer (Lapangan Tembak Akmil), karena keterbatasan fasilitas, ‘EET-4’ merujuk 7 (tujuh) orang pasien dengan rincian kasus sebagai berikut:

1. Pasien luka tusuk dengan indikasi tetanus (dirujuk ke Poskes Marinir)
2. Pasien luka robek sekitar 15 cm karena tidak tersedia alat jahit (dirujuki ke Poskes Marinir)
3. Pasien balita konstipasi 4 hari, tidak tersedia obat (dirujuk ke Puskesmas Salaman 1)
4. Pasien serangan Asthma, dibantu Oksigen (dirujuk ke Poskes Marinir)
5. Pasien demam tinggi, keasadaran menurun, T 80/50 mmHg, dehidrasi (dirujuk ke Puskesmas Salaman 1)
6. Pasien anak Febris Convulsi (dirujuk ke Puskesmas Salaman 1)
7. Pasien pre-partum (blood-slam) ke Puskesmas Salaman 1

Laporan Kegiatan EMANUEL EMERGENCY TEAM-4 (EET-4), 06-09 November 2010.
Penyusun: YB Hendro Priyono, Suradjini, Tania Arindita, Eko Sayoko, Agung

About oaseindisasters

Oase in Disaster - Yakkum Emergency Unit This blog is official blog of Yakkum Emergency Unit Member of ACT Alliance and Member of Humanitarian Forum of Indonesia. The contents of this blog covers the YEU's activities related to emergency responds activities in Indonesia. Currently, we are working in emergency respon in three different areas; to respond Wasior flash-flood affected people in Manokwari, West Papua, tsunami-Mentawai affected people in Mentawai, West Sumatera, and Merapi Volcano Eruption in Central Java and Yogyakarta. At the national level, we are coordinating within the network of Humanitarian Forum of Indonesia (HFI) and at the International level we're coordinating with Global Network for Disaster Reduction and ACT Alliance. Email: yeu@yeu.or.id Follow us in twitter @yeu2001 www.yeu.or.id www.actalliance.org www.humanitarianforumindonesia.org
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Catatan Emanuel Emergency Team: Yankes di Magelang

  1. MAS HEND says:

    Andai saja, kegiatan membersihkan Candi Borobudur dan teman-temannya bisa dikerja-samakan ke YEU, saya usul mengerahkan pengungsi usia produktif menjadi pekerja proyeknya. Daripada bengong nunggu ‘sesuatu’ yang tidak jelas, lebih baik kerja, dapat duit sedikit-sedikit ‘demi terhenti tangis anaknya dan keluh ibunya"……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s