Catatan ORA Klaten: Pengungsi dan Ternaknya

Warga yang hidup di lereng merapi mengandalkan mata pencahariannya dengan cara beternak. Ketika terjadi bencana erupsi merapi saat ini warga dievakuasi ke tempat yang lebih aman, meskipun perhatian terhadap bahaya merapi sudah berkurang akan tetapi perhatian warga terhadap ternaknya belum teralihkan. Warga menjadi murung karena memikirkan ternaknya. Bagaimana nasib ternaknya? Apakah tidak dicuri orang yang memanfaatkan kesempatan seperti ini? Bagaimana cara kembali untuk memberi makan ternaknya? Hal inilah yang memicu kecemasan dari warga. Pemerintah sempat memberikan jaminan untuk membeli sapi-sapi tersebut dengan harga yang layak, namun berapakah harga layak tersebut? Padahal bulan ini ada hari Idul Adha dimana biasanya para peternak  daripada biasanya. Apabila kecemasan ini terus berlanjut maka bisa diperkirakan bahwa warga pengungsi bisa menjadi stress karena beban pikiran yang ada.

Proses evakuasi ternak

Ketika merapi meletus yang pertama warga Desa Sidoreja dan Tegalmulya awalnya diungsikan di Keputran karena menurut pemerintah pada waktu itu jarak aman 10 km. Selama dipengungsian, warga sekitar 40 orang naik ke atas dengan sebuah armada truk mencari rumput pada siang hari kira-kira selama 2jam untuk memberikan makan ternaknya kemudian turun kembali ke pengungsian selama 10 hari. Kemudian, merapi kembali meletus dan jarak aman dinaikkan menjadi 20km. Pengungsi yang ada di Keputran kemudian dipindah di Polttekkes di daerah wedi. Selama 2 hari ternak tidak diberi makan sehingga menyebabkan warga kembali resah dengan ternaknya. Di beberapa desa lain sudah ada yang mengevakuasi ternaknya. Hal ini menambah kecemasan warga, lalu bapak ketua RT dan sekretaris desa meminta bantuan pada ORA untuk juga membantu mengupayakan evakuasi ternak. ORA langsung meminta bantuan pada CD RS Bethesda dan sharing pada Maswan akhrinya bagaimanapun caranya diusahakan untuk bisa mengevakuasi ternaknya.

Pada percobaan evakuasi pertama, sudah dipersiapkan 7 armada truk untuk mengevakuasi ternak namun gagal karena tidak diperbolehkan oleh TNI dan Tagana yang berjaga karena kondisi di atas pada waktu itu masih hujan pasir dan kerikil. Pada percobaan evakuasi kedua hari cerah, ORA berkoordinasi dengan Tagana dan akhirnya diperbolehkan untuk mengevakuasi ternak tetapi hanya 1 kali angkut. Pada evakuasi yang kedua ini semua dipersiapkan dengan matang, armada ditambah menjadi 10 truk dan tiap truk diplotting untuk mengangkut ternak milik siapa saja. Akan tetapi tim evakuasi menemui sebuah kendala, ada 1 truk yang dibelakang nyasar ke daerah Tawang sehingga menyebabkan 7ekor sapi yang belum diangkut. Setelah bekoordinasi dengan warga yang dipengungsian, 1 truk  warga yang ada pengungsian pun akhirnya jg ikut naik untuk mengevakuasi ternak tersebut. Setelah evakuasi dari atas, ternak tersebut dibawa ke daerah Basin dimana warga pengungsi yang lain sudah menyiapkan kandang untuk ternak dari bambu beratap terpal. Selama dua hari kandang terebut roboh karena hanya dari bambu dan kurang kuat sedangkan sapinya banyak gerak. Untuk makanannya warga meminta bantuan pihak kecamatan dan diberitahukan bahwa kalau rumput tinggal ambil di daerah bayat.
Kendala

Dalam proses evakuasi sapi kendala yang muncul antara lain :
1.
Pemerintah belum menyiapkan tempat untuk sapi yang dievakuasi.
2.
Pemerintah belum mengupayakan angkutan sapi sehingga dalam proses evakuasi kekurangan armada truk.
3.
Kekurangan biaya untuk operasional harian armada truk untuk harian mulai pencarian rumput, pengangkutan rumput, dan ke tempat pengungsian sapi.
4.
Belum ada fasilitas pakan ternak berupa konsentrat dan cek kesehatan ternak.
5.
Warga pengungsian harus meminta izin warga setempat untuk mencari rumput dan memberi makan ternaknya.
6.
Hampir semua warga yang mempunyai ternak murung karena memikirkan sapinya.

Harapan 
1.
Pemerintah bisa membantu mengupayakan pemberian pakan ternak yang cukup.
2.
Pemerintah bisa membantu memulihkan ternak yang stress.
3.
Pemerintah bisa membantu mengupayakan armada untuk pengangkutan sapi kembali.
4.
Pemerintah bisa memberikan bantuan biaya maupun bantuan lain untuk recovery pasca mengungsi dari merapi.

Info lebih lanjut, Mas Wan 

About oaseindisasters

Oase in Disaster - Yakkum Emergency Unit This blog is official blog of Yakkum Emergency Unit Member of ACT Alliance and Member of Humanitarian Forum of Indonesia. The contents of this blog covers the YEU's activities related to emergency responds activities in Indonesia. Currently, we are working in emergency respon in three different areas; to respond Wasior flash-flood affected people in Manokwari, West Papua, tsunami-Mentawai affected people in Mentawai, West Sumatera, and Merapi Volcano Eruption in Central Java and Yogyakarta. At the national level, we are coordinating within the network of Humanitarian Forum of Indonesia (HFI) and at the International level we're coordinating with Global Network for Disaster Reduction and ACT Alliance. Email: yeu@yeu.or.id Follow us in twitter @yeu2001 www.yeu.or.id www.actalliance.org www.humanitarianforumindonesia.org
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s