RS Ngesti Waluyo di Tengah Camp yang dikelola mandiri oleh Desa

RS Ngesti Waluyo di Tengah Camp yang dikelola mandiri oleh Desa

Untung pemerintah tak punya disaster preparedness dan mitigation plan Merapi; sehingga  para pengungsi  yang kocar kacir saat terjadi bencana, mencari jalan sendiri bersama masyarakat untuk mendapatkan tempat pengugnsian yang lebih manusiawi. Setidaknya ada 4 model camp yang muncul secara spontan: Yang pertama Camp pemerintah yang  bisanya dikumpulkan di tempat yang besar; bentuk yang kedua adalah camp yang dikelola NGO yang memang profesional dalam bidangnya sepertihalnya yang dikelola oleh YEU dan PRY and NGO lain.  Ketiga adalah camp yang dikelola oleh organisasi pengugnsi sendiri seperti halnya camp yang dikelola oleh organisasi rakyat binaan CD Bethesda asal Kemalang di Wedi dan Kalasan; yang ke empat adalah camp-camp yang dikelola oleh  kelompok-kelompok masyarakat secara mandiri  oleh desa yang  kedatangan pengungsi seperti halnya camp  tempat poskonya RS Ngesti Waluyo, dan yang terakhir adalah tempat pengungsian keluarga-keluarga.   Dalam pertemuan di  Posko YEU kemarin kita berusaha  belajar dari kekuatan dan kelemahan berbagai bentuk camp ini tentunya dengan parameter yang jelas.  Dari omong-omong tersebut,  camp yang dikelola oleh NGO profesional tentunya yang paling memenuhi standard manajemen pengelolaan camp, lalu urutan kedua adalah camp yang dikelola sendiri oleh masyarakat dengan dukungan NGO dan masy, sedang urutan terakhir adalah camp yang dikelola oleh Pemerintah.

Camp yang menjadi Posko RS Ngesti Waluyo adalah Camp yang dikelola oleh Desa Seloboro yang mengurusi 1200 pengungsi dari Srumbung. Manajemen barak mereka sederhana, namun rapi dan cukup transparant. Mereka mengumumkan bahan apa yang kurang dan seberapa banyak persediaan pangan mereka cukup dalam berapa hari.  Mobile klinik unit Yakkum juga diberikan satu kelas yang lumayan bersih, dengan ruang isolasi apabila ada yang sakit menular.  Pasien di camp tersebut tak banyak hanya sekitar 50 orang per hari, namun Ambulance juga melakukan mobile klinik ke desa-desa lain  dengan pasien rerata 300 orang perhari.  Dari pengalaman ini saya makin diyakinkan bahwa rakyat  sebenarnya bisa mengelola masalah mereka sendiri ( SW)

Arah_pos_kes_ngestiMobile_clinicSehari_150_pasien

About oaseindisasters

Oase in Disaster - Yakkum Emergency Unit This blog is official blog of Yakkum Emergency Unit Member of ACT Alliance and Member of Humanitarian Forum of Indonesia. The contents of this blog covers the YEU's activities related to emergency responds activities in Indonesia. Currently, we are working in emergency respon in three different areas; to respond Wasior flash-flood affected people in Manokwari, West Papua, tsunami-Mentawai affected people in Mentawai, West Sumatera, and Merapi Volcano Eruption in Central Java and Yogyakarta. At the national level, we are coordinating within the network of Humanitarian Forum of Indonesia (HFI) and at the International level we're coordinating with Global Network for Disaster Reduction and ACT Alliance. Email: yeu@yeu.or.id Follow us in twitter @yeu2001 www.yeu.or.id www.actalliance.org www.humanitarianforumindonesia.org
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s