Perempuan di Garda Depan Tanggap Bencana: Studi Kasus Bencana Letusan Merapi 2010

Img_0407

Catatan kecil oleh Dewi Utari[1]

 

Menurut pengamatan, pembelajaran, dan penelitian lembaga-lembaga kemanusiaan yang bergerak dalam respon bencana, perempuan dan anak-anak merupakan pihak yang paling dikorbankan. Atau dengan kata lain, menjadi korban yang seringkali tidak berdaya. Dengan demikian, pada saat mengevakuasi survivor (atau dalam bahasa Indonesia: penyintas) bencana alam apapun juga, prioritas keselamatan dan keamanan diberikan kepada perempuan dan anak-anak. Biasanya dengan berbagai pertimbangan fisik dan emosi.

Tetapi, apakah selamanya perempuan (produktif/dewasa) dianggap menjadi penyintas yang tidak berdaya pada masa-masa darurat? Apakah betul mereka tidak bisa bangkit lebih awal dan tetap dalam posisi lebih lemah secara fisik, sosial, dan ekonomi dalam masa-masa darurat maupun masa pemulihan setelah terpapar bencana? Beberapa pengalaman dan kasus dalam cermatan lembaga-lembaga humanitarian membuktikan asumsi bahwa banyak perempuan tidak bisa recover dirinya sendiri dan komunitasnya lebih cepat bisa jadi isapan jempol belaka. Sekali lagi, konstruksi sosial masih mengusung anggapan bahwa perempuan itu lemah, tidak bisa leading, terutama dalam kondisi darurat bencana, baik itu bencana alam maupun bencana sosial. Nyatanya, tidak selamanya konstruksi sosial dan anggapan itu benar.

 

Perempuan sebagai Pemimpin

Tanggap darurat bencana Letusan Gunung Merapi, gunung berapi yang masih sangat aktif di Indonesia, pada akhir bulan Oktober 2010 sampai hari ini memberikan pembelajaran yang begitu berarti berkaitan dengan peran perempuan. Saat Yakkum bersama dengan unit-unitnya (YEU, CD Unit dari beberapa rumah sakit termasuk RS Bethesda, PRY, dl) membantu para penyintas yang merupakan penduduk desa-desa dengan jarak mukim hanya 5-15 km dari puncak Merapi yang sedang mengganas untuk mengevakuasi diri, merupakan saat genting untuk memberikan prioritas keselamatan pada anak-anak dan perempuan. Tetapi apakah sebagai penyintas perempuan produktif (usia dewasa) hanya berdiam diri menerima bantuan saja? Ternyata tidak.

Salah satu strategi pengelolaan lokasi pengungsian (barak) adalah self-manage, yaitu para pengungsi diajak terlibat langsung mengelola bantuan dan mencari solusi dari permasalahan yang mereka alami. Untuk itulah, para penyintas didorong untuk menunjuk salah satu wakilmya menjadi koordinator barak. Dari sekian ratus penyintas yang menempati beberapa barak, terdapat beberapa koordinator barak.

Tentu tidak pernah terpikirkan dalam situasi darurat apakah para penyintas telah mendapatkan pengetahuan tentang keadilan gender atau belum. Namun, secara natural mereka memilih beberapa perempuan dewasa yang masih sigap bergerak dan berpikir cepat sebagai koordinator barak. Sebut saja Ibu Maryati, Ibu Hesti, Ibu Yuli, Ibu Susi, dan Ibu Giyarni di mana mereka secara alami dan mungkin tanpa sengaja diminta oleh warga penyintas menjadi koordinator barak mereka. Penunjukkan para perempuan ini menjadi koordinator barangkali didasarkan pada pengalaman bahwa mereka terbiasa berorganisasi di masing-masing dusunnya. Dalam ranah paling mikro dan lokal di lingkungan pedesaan, PKK[2] sebagai kelompok perempuan adalah satu-satunya organisasi lokal yang masih eksis meski di banyak tempat kegiatannya menjadi banyak berkurang karena kurang dukungan baik secara moril maupun finansial. Salah satu kegiatan perempuan di PKK ini adalah menghidupkan dan mengeksiskan pelayanan kesehatan untuk balita dan manula secara mandiri, melalui aktivitas Posyandu. Gerak dinamis perempuan dalam kerja-kerja PKK dan Posyandu ternyata cukup diperhitungkan oleh kaum laki-laki di desa, sehingga barangkali berdasarkan pengalaman inilah mereka memilih perempuan sebagai koordinator barak mereka selama hidup di pengungsian.

 

Perempuan sebagai Policy Maker

Kalau ada alasan lain penunjukkan perempuan sebagai koordinator barak, ada kemungkinan karena pemikiran mereka bahwa urusan logistik yang masih menjadi aktivitas utama menerima bantuan dianggap sebagai ‘area’-nya kaum perempuan. Para penyintas tidak menyangka, bahwa menjadi koordinator barak tidak sekedar mengambil logistik berupa bahan makanan dan kebutuhan livelihood lainnya, tetapi juga terlibat dalam membuat keputusan penting menyangkut survival para penyintas.

Dalam menentukan apapun yang berkaitan dengan keberadaan dan keselamatan penyintas, unit kerja Yakkum melibatkan koordinator barak untuk membuat keputusan bersama, sebagai konsekuensi dari strategi partisipatif dalam penanganan bencana. Apakah perempuan sebagai koordinator barak tidak bisa bersuara saat rapat koordinasi menentukan evakuasi dan manajemen barak? Sekali lagi, kami dibuat tercengang atas ide-ide dan masukan cerdas mereka. Proses diskusi pengambilan keputusan menjadi dinamis mendengarkan usulan mereka dan kesepakatan bisa dicapai secara smooth dan penuh penghargaan atas kerja keras mereka memikirkan nasib penyintas dalam naungan koordinasi mereka.

Oleh inisiatif para perempuan koordinator ini pula, mereka minta diberi waktu untuk berkoordinasi dengan penyintas lainnya untuk menentukan nasib mereka selanjutnya. Tak perlu susah payah berebut kursi di parlemen, para perempuan sebagai koordinator penyintas mampu membuktikan bahwa merekalah wakil rakyat sesungguhnya, tanpa pamrih dan selalu dengan rendah hati. Harusnya anggota dewan bisa belajar dari mereka. Para perempuan dengan logika sederhananya juga mampu membangun dan mempraktekkan apa yang selalu didengung-dengungkan NGO sebagai pembuatan keputusan partisipatif, tanpa teori yang berpanjang lebar. Ironis, di banyak kasus justru NGO sendiri melupakan paradigma partisipasi dengan terlalu yakin bahwa mereka paling tahu apa yang dibutuhkan oleh orang yang mereka layani.

 

Perempuan sebagai Sukarelawati

Di samping dikondisikan sebagai survivor dan penjaga anak masing-masing pada masa-masa pengungsian dalam kasus bencana yang menuntut mereka harus mengungsi di lokasi yang lebih aman, para perempuan tidak tinggal dan duduk diam menantikan nasib mereka selanjutnya. Saat suami dan laki-laki dewasa bertahan menjaga aset mereka di desa, atau bergerak mencari solusi di luar area pengungsian, perempuan bergerak menawarkan dirinya menjadi sukarelawati turut membantu apa yang bisa mereka lakukan. Kebanyakan mereka secara aktif bergerak di dapur umum, sebuah kegiatan yang tak kalah pentingnya untuk bertahan hidup, dan pelayanan kesehatan sederhana, seperti yang mereka tunjukkan di titik pengungsian Wedi Klaten yang didampingi oleh Organisasi Rakyat Klaten Jawa Tengah[3]. Pembagian tugas publik kesukarelawanan antara perempuan produktif dan laki-laki produktif muncul secara alami dan patut dicermati, sekalipun sekali lagi mereka barangkali belum pernah mendapatkan ilmu gender secara formal. Inilah local wisdom dari perjalanan panjang pembangunan yang seringkali dilupakan.

Aktivitas berorganisasi di tingkat mikro memberikan pembelajaran yang begitu berarti bagi perempuan, salah satunya adalah kerelawanan. Nyatanya pengalaman ini penting saat mereka harus bertahan hidup di tengah-tengah bencana. Menjadi relawati membuktikan bahwa mereka mampu mengatasi persoalan emosional dalam menghadapi bencana, sekaligus bukti bahwa kontribusi perempuan dalam berbagai isu pemulihan pasca bencana dan isu pembangunan lainnya tidak bisa dikatakan sepele.

 

Konklusi: GAD Menjadi Praktek Sehari-hari

Gender and development (GAD) sebagai salah satu pendekatan analisis keterlibatan perempuan dalam ranah pembangunan yang beberapa tahun belakangan dipromosikan oleh penggiat isu gender (kebanyakan pekerja LSM) bagi perempuan dalam kasus-kasus yang diceritakan di atas barangkali jauh dari pengetahuan mereka. Tetapi, ternyata GAD telah mereka praktekkan sehari-hari. GAD mensyaratkan keterlibatan perempuan tidak hanya sebagai penerima atau obyek aktivitas pembangunan (dalam kasus tanggap bencana ini sebagai obyek penerima bantuan), tetapi justru sebagai subyek tanggap bencana ini sendiri sekalipun dalam perspektif charity mereka adalah korban.

Anggapan bahwa perempuan korban tak berdaya dari setiap bencana telah bisa dipatahkan dengan dibuktikan kasus-kasus di atas, tetapi justru praktek ini yang seringkali dilewatkan oleh publik dan media. Maka menjadi pekerjaan tambahan bagi para perempuan survivor untuk membuktikan bahwa anggapan publik -dan sialnya didukung oleh media yang masih bias gender- tentang perempuan ‘hanya’ korban tak berdaya bisa direduksi. Para perempuan bisa menjadi garda depan sebagai pemimpin, pembuat keputusan, dan sekaligus sukarelawati tanpa mengecilartikan peran para laki-laki.

Pembagian tugas yang sepadan dalam kasus kebencanaan bagi para penyintas dan survivor sebetulnya mudah dibangun oleh pemerintah dan institusi sosial lainnya dalam masa tanggap bencana. Hanya saja, persoalannya adalah mau atau tidak, dan di titik pandang mana mereka melihat keterlibatan perempuan sebagai korban sekaligus survivor. Jangan-jangan, maskulinitas dan patriarkisme masih bercokol di kepala mereka, sehingga peran aktif perempuan dalam tanggap bencana menjadi terlupakan dan dipandang sebelah mata.

 

17 November 2010

Note: Penghargaan setinggi-tingginya kepada kaum perempuan penyintas dan pekerja di lingkungan Yakkum.

 

 

 



[1] Staf sekretariat UPKM/CD RS Bethesda Yogyakarta. Sejak beberapa tahun belakangan menjadi pengamat isu gender dalam program pembangunan khususnya dalam kegiatan program kesehatan. Aktif menulis catatan ringkas dalam blog http://utaridewi.wordpress.com dan www.cdbethesda.org

[2] PKK adalah singkatan dari Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, salah satu organisasi bentukan masa Orde Baru yang beranggotakan perempuan desa, dan biasanya dipimpin oleh istri kepala desa. Pembentukan PKK yang wajib dilakukan di setiap desa didasarkan pada peran perempuan dalam paradigma pembangunan. Dalam pendekatan gender masuk dalam kategori pendekatan perempuan dalam pembangunan (women in development) di mana pendekatan ini mensyaratkan peran perempuan untuk mendukung pembangunan desa tetapi sebenarnya masih meaningless dalam hal pemberdayaan, karena program-program mereka waktu itu masih bersifat top-down, di mana pemerintah pusat yang membuat paket program tanpa pelibatan dan masukan dari pelaku perempuan sendiri. Saat ini, PKK di banyak desa sudah jauh berkurang akibat eforia reformasi yang tanpa arah.

[3] Organisasi Rakyat (ORA) Klaten adalah organisasi sederhana dibentuk oleh masyarakat dampingan UPKM/CD RS Bethesda di wilayah Klaten pasca gempa pada tahun 2006. Beberapa organisasi ini memiliki kegiatan pemulihan ekonomi pasca gempa dan pendidikan dan pelayanan kesehatan seperti pengobatan tradisional, di samping kegiatan advokasi kesehatan. 



From: Posterous <post@posterous.com>
To: arshinta_2000@yahoo.com
Sent: Tue, November 16, 2010 7:36:41 PM
Subject: Posterous | Re: Price Increase as Mt. Merapi Continuing Erupted

About oaseindisasters

Oase in Disaster - Yakkum Emergency Unit This blog is official blog of Yakkum Emergency Unit Member of ACT Alliance and Member of Humanitarian Forum of Indonesia. The contents of this blog covers the YEU's activities related to emergency responds activities in Indonesia. Currently, we are working in emergency respon in three different areas; to respond Wasior flash-flood affected people in Manokwari, West Papua, tsunami-Mentawai affected people in Mentawai, West Sumatera, and Merapi Volcano Eruption in Central Java and Yogyakarta. At the national level, we are coordinating within the network of Humanitarian Forum of Indonesia (HFI) and at the International level we're coordinating with Global Network for Disaster Reduction and ACT Alliance. Email: yeu@yeu.or.id Follow us in twitter @yeu2001 www.yeu.or.id www.actalliance.org www.humanitarianforumindonesia.org
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s