PRB dan Anak-Anak

Merapi_anak_001

Saat itu (3/11), situasi Merapi tidak menentu. Hari baru saja hujan namun mendung masih tetap saja menggelayuti langit. Awan tebal di malam hari membuat kami tidak bisa memantau perkembangan di puncak Merapi. Andalan satu-satunya, setidaknya bagi saya, adalah update dari @jalinmerapi, akun jaringan sosial twitter yang gencar mengabarkan perkembangan erupsi Merapi. 

Erupsi yang terjadi hampir sepanjang, setidaknya sejak saya berada di Yogyakarta (30/10) membuat kami semua harus ekstra waspada. Terlebih, pada saat itu, posko kami di Disaster Oasis, adalah posko terdekat dengan puncak Merapi yang diperkirakan berjarak sekitar 12 km dari tempat kami berada.

Sepintas, tidak ada yang istimewa malam itu. Salah-satu stasiun tivi yang juga menginap di tempat kami, tengah melakukan laporan live dengan menginterview salah-seorang penyintas yang berada di Disaster Oasis. Kecuali itu, hampir semua orang mengenakan masker penutup hidung dan mulut. Berjaga-jaga pada ancaman debu vulkanik yang memang berbahaya bagi pernafasan.

Merapi_anak_002

Dinda dan Anak-Anak

Dalam keadaan seperti itu, Dinda, salah-seorang relawan di Posko YEU, sedang duduk sambil membacakan buku cerita. Di sampingnya duduk tiga orang anak, satu anak lainnya jongkok di depannya, berusaha menyimak cerita. Kisah yang disajikan Dinda saat itu adalah pengalaman anak-anak menghadapi bencana tsunami.

Selain Dinda, relawan lain juga tengah mengondisikan anak-anak dengan berbagai macam kegiatan. Tidak semua anak dilibatkan. Sebagian masih tetap dibiarkan berada di dekat orangtuanya masing-masing atau dibiarkan bermain-main dalam lingkungan yang masih bisa diawasi. Tema umum yang dilakukan pada anak-anak pada situasi itu adalah bagaimana anak-anak bisa memahami keadaan alam dan lebih mengerti tentang bencana.

Pada kesempatan lain (Minggu, 7/11), tim relawan psikososial anak YEU menggelar pertunjukkan badut untuk anak-anak. Pertunjukkan dilakukan di Seminari Tinggi, Gereja Santo Paulus, Banteng. Seorang badut disiapkan untuk mengisi acara tersebut. Dengan tingkahnya yang lucu, sang badut mengirimkan pesan-pesan tentang pengurangan resiko bencana untuk anak-anak.

Merapi_anak_003

badut dan anak-anak

Demikian pula dengan acara pada Rabu malam (10/11). Dibantu oleh tim psikososial dari JogjaBangkit, anak-anak diajak untuk bersahabat dengan Merapi. Merapi adalah tempat tinggal sekaligus penghidupan, saat ini dan di masa yang akan datang.

Merapi_anak_004

Merapi Sahabatku

PRB untuk Anak-Anak

Menik, panggilan akrab Helena Sigit, salah-satu staf YEU, saat itu mengatakan, “kita tidak melihat adanya anak-anak yang mengalami trauma. Jadi, kami tidak melakukan trauma healing. Namun, keadaan (berada di tengah bencana) seperti sekarang, adalah momentum yang baik untuk mengajari anak-anak untuk mengetahui dasar-dasar pengurangan resiko bencana”.

Membekali anak-anak dengan pengetahuan-pengetahuan dasar tentang Pengurangan Resiko Bencana (PRB) adalah upaya strategis yang diharapkan berdampak di masa yang akan datang. Dengan metode penyampaian yang menyenangkan, anak-anak akan bisa dengan mudah menerima pengetahuan-pengetahuan penting tentang alam sekitarnya, baik manfaatnya maupun ancaman-ancamannya.

Upaya ini sebenarnya bukanlah hal yang baru dan telah dilakukan sejak dahulu. Salah-satu segmen yang diceritakan Pramoedya Ananta Toer dalam Novel berjudul “Gadis Pantai” misalnya, Pram menyampaikan bagaimana Gadis Pantai memahami seluk-beluk laut dari orangtuanya. Laut digambarkan oleh Pram sebagai sumber penghidupan yang didalamnya terkandung pula ancaman-ancaman.

Demikian pula dengan masyarakat pegunungan di seputar Merapi. Masyarakat Dusun Boyong dan Jurang Jero yang saat ini bersama dengan YEU misalnya. Sebagian dari mereka bisa menceritakan dengan tenang bagaimana perilaku Merapi. Mereka sadar, Merapi bukanlah lawan yang sepadan dan tidak mungkin dianggap lawan.

Dengan bijak, masyarakat mengatakan bahwa yang bisa dilakukan adalah menyesuaikan diri dengan perilaku Merapi dan tidak coba-coba untuk menantangnya. Sungguh, ancaman Merapi bukanlah isapan jempol semata. Telah lebih dari 200 jiwa meninggal karena serangan awan panas dan laharnya.

Apa yang hendak dituju oleh kegiatan psikososial anak dengan tema PRB di pos penyintas yang dikelola YEU adalah menstrukturkan pengetahuan-pengetahuan dan pengalaman-pengalaman lokal tentang Merapi. Harapannya, generasi Merapi yang akan datang lebih siap dan tanggap menghadapi perilaku gunung yang saat ini telah menjadi sumber penghidupan utama baginya.

Kurikulum Bencana

Hal ini sebenarnya telah disadari oleh Pemerintah. Berbagai inisiatif telah dilakukan oleh Kementerian Pendidikan Nasional RI untuk memasukkan kurikulum bencana dalam pendidikan dasar. Upaya ini baik, mengingat pengenalan sejak dini tentang alam dan resikonya, akan bermanfaat bagi anak-anak selaku pemegang mandat generasi yang akan datang.

Namun PRB bukanlah program yang parsial, melainkan menuntut pengarusutamaan. Secara pribadi saya berpendapat, tidak perlu ada matapelajaran khusus tentang PRB. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana menyisipkan pengetahuan-pengetahuan tentang PRB dalam setiap matapelajaran yang diajarkan pada anak-anak.

Misalnya dalam matapelajaran sejarah, anak-anak dikenalkan dengan lesson-learned tentang bencana-bencana alam yang pernah terjadi di Indonesia, atau dalam matapelajaran biologi, diajarkan bagaimana mengenali tanda-tanda akan adanya bencana dari perilaku hewan, dalam matapelajaran geografi diajarkan tentang bagaimana alam, potensi serta ancaman-ancamannya, dan seterusnya.

Dengan mempertimbangkan pentingnya memperhatikan aspek kepraktisan, penyisipan informasi-informasi tersebut akan jauh lebih bermanfaat jika disandarkan pada aspek-aspek local. Akan tetapi, dengan mengutamakan aspek lokal, bukan berarti luput memperhatikan aspek-aspek umum secara nasional maupun internasional. Poin yang harus dicapai dalam upaya tersebut adalah bagaimana pengetahuan tidak hanya berhenti sebagai pengetahuan, melainkan pedoman umum untuk melakukan tindakan.

Dengan mengintegrasikan pengenalan PRB sejak pada anak-anak melalui pelajaran sekolah, dampak yang bisa dilihat tentu akan jauh lebih besar dan lebih bermanfaat. Sudah barang tentu, kelak kita akan menyambut generasi yang lebih tanggap pada bencana.***

Disampaikan Syamsul Ardiansyah untuk Yakkum Emergency Unit (YEU). Foto Syamsul dan Deas. 

Powered by Telkomsel BlackBerry®

About oaseindisasters

Oase in Disaster - Yakkum Emergency Unit This blog is official blog of Yakkum Emergency Unit Member of ACT Alliance and Member of Humanitarian Forum of Indonesia. The contents of this blog covers the YEU's activities related to emergency responds activities in Indonesia. Currently, we are working in emergency respon in three different areas; to respond Wasior flash-flood affected people in Manokwari, West Papua, tsunami-Mentawai affected people in Mentawai, West Sumatera, and Merapi Volcano Eruption in Central Java and Yogyakarta. At the national level, we are coordinating within the network of Humanitarian Forum of Indonesia (HFI) and at the International level we're coordinating with Global Network for Disaster Reduction and ACT Alliance. Email: yeu@yeu.or.id Follow us in twitter @yeu2001 www.yeu.or.id www.actalliance.org www.humanitarianforumindonesia.org
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s