Elegi dan Kearifan Lokal di Srumbung

Wisma Nazareth – Paroki Banteng, Yogyakarta – 20/11/10 – 09:00 WIB.  Srumbung adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Kecamatan ini kuranglebih terletak antara delapan hingga sebelas kilometer dari puncak Merapi, di lereng Barat Gunung Merapi.

Salak adalah produk utama Srumbung. Buah ini telah mendatangkan kemakmuran untuk penduduknya selama bertahun-tahun. Varietas Nglumut adalah salak unggulan Srumbung, yang telah dipasarkan ke seluruh Indonesia bahkan sampai ke negara tetangga. Dari tujuhbelas desa di Srumbung, terdapat sembilan yang secara tradisional adalah penghasil salak. Pada masa lalu dalam masa jayanya berdasarkan informasi dari Ali Setyadi, mantan Camat Srumbung, dapat diperoleh potensi produksi salak dari kesembilan desa tersebut sebanyak 37.500 ton setahun dengan pendapatan kasar fantastis senilai Rp 131.250.000.000.

“Namun sayang produk kami itu diakui sebagai Salak Pondoh seolah itu berasal dari Sleman, karena para tengkulak dari kabupaten tetangga di Yogyakarta tersebut memiliki akses yang lebih baik ke pasar” kata Ali Setyadi sebagaimana dikutip dalam www.epwisata.com pada 12 Juni 2009.

Lagu sendu pemasaran dari Srumbung tersebut saat ini masih ditambahi dengan elegi lain berupa kerusakan berat lahan perkebunan salak karena letusan Merapi sejak 26 Oktober lalu. Hal ini tidak pernah dibayangkan penduduk Srumbung sebelumnya. Walau mereka telah memiliki pengalaman letusan-letusan sebelumnya, namun dampaknya tidaklah sebesar dan seberat saat ini.

Pada saat terdapat kisah-kisah sendu di Srumbung, hal tersebut hidup penuh damai dengan kearifan lokal. Memang betul masyarakat setempat menghadapi berbagai tantangan, namun mereka tidak pernah menyerah.

Suwaji adalah petani salak dari Dusun Waru Doyong di Srumbung. Ia memperkirakan bahwa pemulihan ekonomi perkebunan salak rakyat di Srumbung membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun.

“Kondisi itu akan tercapai jika kami bisa menyelamatkan sebagian besar pohon yang rusak karena bencana hari-hari ini. Yang akan kami lakukan adalah memangkas daun-daun yang patah, dengan harapan tahun depan akan tumbuh tunas daun. Setelah itu buah akan secara bertahap tumbuh. Saya perkirakan saat-saat awal itu saya bisa memanen sekitar dua kwintal tiap minggu. Pada situasi normal saya bisa memanen tiga sampai lima kwintal” kata Suwaji.

Suwaji berencana akan bekerja serabutan selama salak belum berproduksi memadai pada tahun-tahun awal. Mungkin ia akan bekerja menjadi buruh penambangan pasir Muntilan, atau bekerja di kebun salak tetangganya yang memerlukan bantuan tenaga dalam proses pemulihan. Untuk masa awal tersebut Suwaji berharap pemerintah bisa menolong petani dengan kebutuhan hidup seperti pangan, juga bantuan pupuk dan vitamin tambahan untuk tanaman untuk mempercepat pemulihan.
  
Tumirah dalam situasi normal dapat memanen salak antara dua sampai tiga kuintal setiap minggu. Pendapatan kotor dari panen tersebut berkisar antara sembilanratus ribu sampai satu setengah juta rupiah. Ketika ditanyakan harapannya dari pemerintah, dia menjelaskan tidak mampu mengatakannya.
 
“Anda lihat sendiri, seluruh kebun nyaris rusak seperti ini. Di sepetak tanah lain saya sebetulnya sudah punya empatratus tanaman benih siap tanam, tetapi saya tidak tahu bagaimana nasib mereka sekarang ini. Dengan keadaan ini, bagaimana saya bisa berharap dari pemerintah? Yang penting menurut saya, segera setelah bencana alam berakhir, kami harus bergotong royong untuk memulihkan keadaan. Alhamdulilah saluran air bersih kami tidak rusak. Juga sebagian terbesar rumah-rumah kami hanya dikotori oleh debu dan tidak rusak” Tumirah menggarisbawahi arti penting gotong royong dan tidak berharap terlalu banyak pada bantuan pemerintah untuk memulihkan desa mereka.
 
Dusun Salamsari di Kecamatan Srumbung memang dapat dikatakan sebagai desa makmur. Kondisi perumahan bagus dan sehat, terbuat dari tembok bata atau batu alam serta dilengkapi perabot yang sangat memadai. Mobil dan sepedamotor adalah kendaraan yang lazim dimiliki penduduk. Jejak keberhasilan hidup berkat buah salak tampak jelas terlihat. Hanya sejumlah kecil rumah yang rusak karena konstruksi sederhana mereka.
 
Seorang perempuan lain berhasil ditemui di Srumbung. Muslikah bisa memanen dua hingga tiga kuintal salak pada situasi normal. Pendapatannya berkisar antara delapanratus sampai satu juta duaratus ribu rupiah tiap panen. Muslikah merasa pesimis apakah dia akan berhasil menyelamatkan pohon-pohon salaknya karena kerusakannya menyeluruh.
 
“Saya masih belum tahu nantinya bagaimana harus mencari uang. Semoga saja saya diberkahi tubuh sehat wal afiat sehingga saya bisa bekerja keras. Jika pemerintah mau memberi bantuan ya terimakasih, tetapi jika tidak maka saya harus bilang apa?” tukas Muslikah tentang ketidakpastian kehidupannya dalam jangka pendek mendatang.
 
Muslikah memiliki tiga orang anak lelaki. Ketiganya sudah dewasa dan anak sulungnya bekerja sebagai TKI di Malaysia. Pada saat sulit seperti sekarang ini, dialah tumpuan harapan satu-satunya untuk menggantungkan hidup. Ketika ditanyakan kebutuhan mendesak apa yang paling diperlukannya dalam waktu dekat ini, Muslikah mengatakan bantuan untuk mendukung pemulihan lahan perkebunan salak. Namun ia juga mengatakan bantuan uang tunai untuk menunjang hidup saat kebun salak belum berproduksi.
 
Seorang pria yang sudah berumur ditemui saat ia bercakap-cakap dengan tetangganya di Srumbung. Pak Darmono memiliki beberapa petak tanah yang ditumbuhi salak. Menanggapi bencana letusan Merapi, Darmono mengingatkan masyarakat bahwa kejadian ini adalah kehendak Tuhan. Bencana alam ini memang kehendak Tuhan sebagai sebuah peringatan pada manusia agar hidup lebih mengikuti kehendakNya.
 
“Sebagai contoh, orang di sini dulu sering sekali berkelahi saling berebut lahan penambangan pasir. Lha sekarang ini Gusti Pangeran nglulu (Gusti Pangeran=Tuhan, nglulu= memberi berlebihan untuk menguji – Penulis). Jika itu kelak masih menimbulkan pertengkaran ya itu keterlaluan. Saya tidak bisa bilang apa-apa. Di pengungsian saya senantiasa mengingatkan teman-teman, apa yang kita alami sekarang ini sama dengan jaman Nabi Nuh”, kata Darmono.
 
Di Srumbung kita bisa menemukan nyanyian sendu yang hidup nyata dalam keseharian, namun pada saat yang sama kearifan lokal juga nyata sebagai landasan utama untuk menyembuhkan elegi hidup. Ketika Suwaji dan Tumirah menyampaikan upaya-upaya kemandirian mereka, Darmono memandangnya dari sudut pandang religiusitas. Dua titik tersebut diharapkan bersatu untuk secara terpadu memulihkan kehidupan masyarakat di Srumbung. Foto menyertai artikel ini adalah Suwaji, Tumirah, Muslikah dan Darmono (disiapkan oleh Abang Rahino untuk Yakkum Emergency Unit).

Abang Rahino
http://sanggarkertasyogya.blogspot.com/
Jl.Jurugsari III/35, Kaliurang Km 7,3, Yogyakarta 55283, Indonesia, Ph 62-274-668 3701, Cell: 0878 3997 1706

Sanggar Kertas, an idea for documentary films, animations, cartoons and feature writings

SuwajiTumirah_-_copyMuslikahDarmono

About oaseindisasters

Oase in Disaster - Yakkum Emergency Unit This blog is official blog of Yakkum Emergency Unit Member of ACT Alliance and Member of Humanitarian Forum of Indonesia. The contents of this blog covers the YEU's activities related to emergency responds activities in Indonesia. Currently, we are working in emergency respon in three different areas; to respond Wasior flash-flood affected people in Manokwari, West Papua, tsunami-Mentawai affected people in Mentawai, West Sumatera, and Merapi Volcano Eruption in Central Java and Yogyakarta. At the national level, we are coordinating within the network of Humanitarian Forum of Indonesia (HFI) and at the International level we're coordinating with Global Network for Disaster Reduction and ACT Alliance. Email: yeu@yeu.or.id Follow us in twitter @yeu2001 www.yeu.or.id www.actalliance.org www.humanitarianforumindonesia.org
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s