Matinya Parsini

@jalinmerapi: INFO JM2:Telah meninggal dunia Ibu Parsini 50th td pagi,diduga krn kelaparan.Sumber:Bp Azis (cont)http://tl.gd/73bb8a

Terus-terang, kabar kematian Parsini (50), penyintas asal Sawangan, Magelang, mengusik pikiran saya. Terlepas benar-tidaknya penyebab kematian, apakah karena kelaparan atau bukan, tidak menjadi concern utama saya.

Khususnya jika membandingkan dengan fakta akan buruknya manajemen pengungsian selama erupsi Merapi seperti saat ini, saya cenderung menyimpulkan faktor yang telah mematikan Parsini tidak lain selain karena tidak adanya perhatian serius dari pemerintah atas nasib para penyintas seperti Parsini.

Sekarang, apa yang harus dilakukan?

Yang pasti, saat ini bukanlah saat yang tepat untuk berpolemik atas apa penyebab kematian Parsini.

Pertanyaan yang harus ditanamkan di benak kita masing-masing, khususnya pejabat-pejabat pemerintah yang berwenang, adalah apakah kita ingin mendengar adanya penyintas yang mati karena kelaparan? Jika tidak ingin, “melunaknya” Merapi seperti sekarang adalah momentum emas untuk segera melakukan perbaikan.

Meski sebagian penyintas sudah kembali ke dusun masing-masing, bukan berarti masalah pembenahan sudah out of date. Sebaliknya, pembenahan pengelolaan barak tetap krusial. Efisiensi dalam manajemen distribusi logistik bantuan untuk penyintas harus segera dilakukan. Pemerintah harus mengubah strategi, yang sebelumnya lebih banyak menunggu request, menjadi proaktif melakukan pendataan cepat agar kesenjangan (gap) bisa terpantau dan terpenuhi setiap hari.

“Melunaknya” Merapi seperti sekarang sesungguhnya merupakan saat yang tepat untuk melatih penyintas dan warga pada umumnya tentang tata-cara minimum penyelamatan diri dari ancaman erupsi Merapi. Kembalinya warga ke dusun masing-masing tetap membawa rasa was-was di benak masing-masing, sebab ancaman belum usai.

Pemerintah jangan berspekulasi terburu-buru menganggap bahwa masalahnya dengan Merapi sudah selesai. Meski pemerintah sudah mengeluarkan edaran tentang pengurangan zona bahaya dan sebagian penyintas sudah mulai kembali ke dusunnya masing-masing, namun keadaan masih belumlah pulih. Butuh waktu untuk menyatakan situasi telah kembali normal.

Kematian Parsini adalah alarm yang sangat nyaring bagi pemerintah untuk segera bangun dari ketidaksadaran atas masih banyaknya hak penyintas yang belum bisa dipenuhi.

Alarm senyaring dan sebising itu, masihlah jauh lebih baik ketimbang murkanya “mbah” Merapi.***

Jakarta, 21 Nov 2010
Syamsul Ardiansyah
Yakkum Emergency Unit (YEU)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

About oaseindisasters

Oase in Disaster - Yakkum Emergency Unit This blog is official blog of Yakkum Emergency Unit Member of ACT Alliance and Member of Humanitarian Forum of Indonesia. The contents of this blog covers the YEU's activities related to emergency responds activities in Indonesia. Currently, we are working in emergency respon in three different areas; to respond Wasior flash-flood affected people in Manokwari, West Papua, tsunami-Mentawai affected people in Mentawai, West Sumatera, and Merapi Volcano Eruption in Central Java and Yogyakarta. At the national level, we are coordinating within the network of Humanitarian Forum of Indonesia (HFI) and at the International level we're coordinating with Global Network for Disaster Reduction and ACT Alliance. Email: yeu@yeu.or.id Follow us in twitter @yeu2001 www.yeu.or.id www.actalliance.org www.humanitarianforumindonesia.org
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s