Karena Mereka Tahu Apa yang Diperbuat

Wisma Nazareth, Paroki Banteng, Sleman, Yogyakarta – 26/11/10 jam 08:50 WIB – Peran pemuda dan remaja dalam tanggap darurat bencana Merapi tampak nyata walau di sana-sini perlu dibenahi bagaimana itu harus dilakukan. Tulisan ini bukan berbahan wacana aras tinggi semacam semangat 1928, namun sekedar catatan kecil yang terserak, yang sejak erupsi Merapi berhasil terkumpulkan. Catatan itu membuktikan bahwa mereka tahu apa yang harus diperbuat dalam tahap-tahap kritis sekalipun seperti tanggap darurat bencana atau tahap rekonstruksi-rehabilitasi pasca bencana.
   
“Mereka luar biasa. Saya sangat kagum pada generasi penerus bangsa ini…” Handojo Simodihardjo, arsitek lansekap dan seniman yang mukim di Dusun Kayen yang bertetangga dengan Kali Boyong di desa Condongcatur ini berbicara sembari mengarahkan tangannya pada sekelompok pemuda dan pemudi yang sibuk bekerja.
    Handojo mengucapkannya berkali-kali. Kepada penulis, dan juga diulangi saat seorang petinggi yang berkantor di bilangan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, mengunjungi Posko Kayen di rumah Handojo.
   
Di Salam pada sebuah pos pengungsian warga Dusun Ganden, Kecamatan Srumbung, para pemuda dan para Ibu pengungsi aktif terlibat dalam pengambilan keputusan manajemen barak pengungsian. Merekalah yang mengatur segalanya dari yang remehtemeh hingga kebijakan yang dikoordinasikan dengan Pak Kadus.
   
Di pos pengungsian Wisma Nazareth – Paroki Banteng, Sleman, Yogyakarta, para pemuda dan remaja laki-laki maupun perempuan, dengan terlebih dahulu didahului oleh para perempuan Ibu rumahtangga, sangat aktif terlibat dalam manajemen barak. Oleh Yakkum Emergency Unit/YEU, para pemuda ini mengaku terlibat dalam kegiatan psikososial, logistik, dan pengambilan keputusan bersama sejak tiga hari lalu (23/11). Mereka antara lain Joko, Fitri, Tata, Sulis, Mira dan Sulis “Ceplis”. Sebelumnya saat diselenggarakan Lomba Gambar Anak-anak (19/11), penulis melibatkan para remaja di bawah koordinasi Oki, siswa kelas10 SMK Tempel, untuk membimbing adik-adik mereka dalam kegiatan menggambar mereka.
   
Pada pos pengungsian masyarakat Boyong dan enam dusun lain di SMPN 3 Pakem, para pemuda di desa Harjobinangun yang menjadi “tuan rumah” bagi para pengungsi juga langsung aktif menjadi relawan membantu para  pengungsi. Mereka berdatangan dalam berbagai tim untuk asesmen kebutuhan, dan dilanjutkan dalam pendistribusian kebutuhan bagi para pengungsi seperti nasi bungkus, selimut, dan juga kegiatan-kegiatan lain.
   
Para pemuda yang berasal dari daerah bencana sebenarnya juga sudah aktif di desa masing-masing misalnya menjadi relawan pengawas kegiatan Gunung Merapi sambil menjaga harta benda di daerah masing-masing.

Terbebas dari Rasa Suntuk
   
Jenuh dan seringkali diwarnai putus asa menyelimuti para pengungsi termasuk para pemuda dan remaja. Tidak mengherankan, karena dinamika mereka terenggut saat di pengungsian secara tiba-tiba harus menjadi pasif. Intervensi psikososial memang dilakukan, namun perhatian lebih diberikan pada komunitas anak-anak, dan kalangan dewasa. Para pemuda dan remaja sepertinya terlewatkan selama tiga minggu pertama tanggap darurat bencana.
   
“Jenuh dan suntuk mas. Bagaimana ya …” Joko dari Dusun Boyong mengaku. Ia sehari-hari membantu Ibundanya mengelola warung makan di desanya. Teman-temannya, Sulis, Fitri, Tata, Mira, dan Sulis “Ceplis” juga mengatakan hal yang sama.
   
“Beruntung sejak tiga hari lalu kami dilibatkan menjadi relawan, kalau enggak wah nggak tau jadinya …” kata Sulis yang sehari-hari membantu orangtua mengurus ternak sapi perah dan dua tiga hari sekali menambang pasir Merapi.
   
“Dengan keterlibatan ini, saya jadi terbebas dari rasa suntuk Mas. Piye gitu lho kalo nggak ada kegiatan” Tata yang berprofesi sebagai artis penyanyi lokal nimbrung.
   
“Lha saya itu biasanya bekerja di pabrik plastik, lalu tiba-tiba harus diaaam saja, kan ya rasanya nggak betah to mas”, Fitri pun tak lupa bercerita.

Mau Apa Di Rumah
   
“Saya mau menenangkan jiwa. Itu nomor satu, agar bisa terbebas dari trauma yang saya alami. Sebelumnya tidak pernah je… Ini katanya letusan Merapi terhebat selama tigaratus tahun terakhir lho” (Sulis – peternak sapi dan penambang pasir).
   
“Saya segera pengin cari kerja, untuk memulihkan ekonomi keluarga mas. Semua job batal segera setelah Merapi meletus je, Mas” (Tata – artis penyanyi lokal).
   
“Saya segera memusatkan pada pekerjaan di pabrik plastik. Beruntung sejak Senin lalu (22/11) pabrik sudah buka lagi” (Fitri – buruh plastic moulding di Hargobinangun).
   
“Segera saya akan membantu Ibu lagi di warung”, kata Joko.
   
Generasi muda dari Ganden – Srumbung, Kayen-Condongcatur, Boyong, Hargobinangun, adalah contoh konkrit lokal betapa lapis masyarakat yang penuh dinamika ini sangat bisa diandalkan dalam banyak hak, termasuk tanggap darurat bencana. Kita berharap, mereka pun kelak akan dilibatkan secara aktif dalam tahap rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana Merapi pada setiap aras kegiatan, mulai dari kegiatan pengambilan kebijakan sampai dengan implementasi praktis di lapangan. Jangan sampai terjadi, komponen yang sangat potensial ini ‘bak pion-pion dalam permainan catur para pengambil keputusan di atas. Karena mereka pun sudah mampu melakukan pemetaan kebutuhan pasca bencana atau yang secara keren dikenal sebagai post disaster needs assessment atau PDNA. Foto-foto menyertai artikel ini adalah: Joko, Fitri, Sulis, Tata, Mira, Sulis "Ceplis" dan Oki (disiapkan oleh Abang Rahino untuk Yakkum Emergency Unit).

Img_0030Img_0031Img_0033Img_0034Img_0011A_student_in_her_study_at_refu

About oaseindisasters

Oase in Disaster - Yakkum Emergency Unit This blog is official blog of Yakkum Emergency Unit Member of ACT Alliance and Member of Humanitarian Forum of Indonesia. The contents of this blog covers the YEU's activities related to emergency responds activities in Indonesia. Currently, we are working in emergency respon in three different areas; to respond Wasior flash-flood affected people in Manokwari, West Papua, tsunami-Mentawai affected people in Mentawai, West Sumatera, and Merapi Volcano Eruption in Central Java and Yogyakarta. At the national level, we are coordinating within the network of Humanitarian Forum of Indonesia (HFI) and at the International level we're coordinating with Global Network for Disaster Reduction and ACT Alliance. Email: yeu@yeu.or.id Follow us in twitter @yeu2001 www.yeu.or.id www.actalliance.org www.humanitarianforumindonesia.org
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s