Janji, Lamban, dan Perjuangan Hidup Mati

Gedung Serba Guna Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta – Jum’at  3 Des 2010 – 07:00 WIB. Hanya dalam empat hari terakhir, enam ekor sapi didapati mati sebatas di Dusun Boyong saja. Demikian dikatakan oleh Purwanto, seorang anggota Koperasi “Warga Mulia” di sela-sela kesibukannya sebagai relawan YEU di pos pengungsian Sinduharjo, kemarin (2/12/10).

Sementara jauh hari sebelum itu, Prof.Ida Tjahajati, Koordinator Tim Divisi Identifikasi Ternak Merapi seperti dikutip www.detiknews.com 22 November mengatakan bahwa sebanyak 2.828 ekor sapi didapati mati terkena awan panas. Jumlah itu berasal dari seluruh wilayah kawasan Merapi pada periode 26 Oktober hingga 5 November saja. Ida mengatakan, dari jumlah itu, 2.394 ekor berasal darii Sleman, 357 ekor dari wilayah Klaten, 66 ekor dari Boyolali dan 11 ekor dari Magelang.

"Sapi yang mati pasti akan diganti pemerintah tapi perlu waktu," sebut Ida yang juga Direktur Rumah Sakit Hewan Soeparwi UGM ini.

“Lha lama kelamaan, sedikit demi sedikit abu Merapi yang masih tersisa menempel di rumput walau sudah kami cuci itu ‘kan nempel di lambung sapi. Tadinya waktu pemerintah bilang mau beli sapi, kami senang dan inginnya cepat-cepat. Kasihan sapi-sapi itu, tiap hari makan rumput berabu vulkanik. Tapi nyatanya sampai sekarang tidak ada wujud. Sekarang mati satu per satu sapi-sapi itu setelah abu vulkanik mengendap di perut mereka ”, kata Sokimun, Ketua Koperasi “Usaha Peternakan dan Pemerahan” di Kaliurang kemarin (2/12/10).

Sokimun, yang juga Kepala Dusun Boyong, menunjukkan kekecewaannya pada kelambanan prosedur pembelian sapi yang pernah dijanjikan pemerintah lewat pernyataan Presiden SBY.

Sementara pemerintah sibuk dengan segala urusan birokrasi gemuk yang lamban, tingkat kepedulian yang rendah, dibarengi dengan pembangunan citra melalui janji kata-kata, tiap detik para peternak korban letusan Merapi harus berjuang mempertahankan kesehatan sapi-sapi mereka di tengah segala keterbatasan.

“Lha bagaimana nggak habis-habisan to, Pak. Lha wong penghasilan tidak ada karena sapi tidak produktif karena tidak sehat. Pasokan air bersih tidak ada karena instalasi hancur diterjang lahar dingin. Rumput ditimbuni abu vulkanik. Kami mencari air pencuci rumput dari tempat yang jauh diangkut sepeda motor.Tapi ‘kan ya terbatas proses cucinya, harus hemat air. Kan ya sudah maksimal usaha kami. Jadi mungkin abu itu masih menempel di rumput, karena jika kena air dia memang jadi keras dan lengket seperti semen”, tutur Purwanto menjelaskan betapa derita peternak Merapi bertumpuk-tumpuk.

“Lha bagaimana to Pak, ‘kan ya uang sisa tabungan semakin tipis tiap hari harus beli bensin motor untuk pulang balik ke rumah dari pengungsian. Lalu harus lari cari air bersih buat nyuci rumput dan bersih-bersih rumah. Lalu sapinya itu, walau rumput sudah dicuci tapi ‘kan ya sisa2 debu vulkanik itu masih ada. Dimakan sapi rumputnya, lha piye to Pak, bayangke wae nek mangan semen kae piye. Kan ya mati satu persatu” Maryati, peternak sapi lain dari Boyong meluapkan emosinya karena kecewa kemarin (2/12/10) sembari memberi pakan ternaknya

Foto pertama menunjukkan bangkai sapi di Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, sedangkan foto kedua Jumirah, seorang peternak sapi asal Boyong saat memberi pakan di lokasi evakuasi ternak di Getasan yang berjarak 28km dari dusunnya (disiapkan oleh Abang Rahino untuk Yakkum Emergency Unit, foto pertama dari Christian Science Monitor).

Foto_1Livelihood7_-_copy

About oaseindisasters

Oase in Disaster - Yakkum Emergency Unit This blog is official blog of Yakkum Emergency Unit Member of ACT Alliance and Member of Humanitarian Forum of Indonesia. The contents of this blog covers the YEU's activities related to emergency responds activities in Indonesia. Currently, we are working in emergency respon in three different areas; to respond Wasior flash-flood affected people in Manokwari, West Papua, tsunami-Mentawai affected people in Mentawai, West Sumatera, and Merapi Volcano Eruption in Central Java and Yogyakarta. At the national level, we are coordinating within the network of Humanitarian Forum of Indonesia (HFI) and at the International level we're coordinating with Global Network for Disaster Reduction and ACT Alliance. Email: yeu@yeu.or.id Follow us in twitter @yeu2001 www.yeu.or.id www.actalliance.org www.humanitarianforumindonesia.org
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Janji, Lamban, dan Perjuangan Hidup Mati

  1. Sigit Wijayanta says:

    Karena tempat terbatas, acara ini diprioritaskan untuk para donatur yang ingin membantu proposal rehabilitasi dan rekonstruksi yang disusun masyarakat, untuk konfirmasi keikutsertaan mohon hubungi Askaria Tiaristhy ,HP 081319661978, ska_theo03@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s