Wasior “Si Sulung” yang Nyaris Terlupakan

Tersusul oleh dua bencana yang terjadi berturut-turut terjadi di bumi Indonesia, banjir bandang Wasior nampak nyaris terlupakan. Seolah-olah kita semua tak perlu lagi mendengar tentangnya, padahal bagi para penyintas di pengungsian artinya akan sama sekali lain, semakin sedikit orang yang mempedulikan nasib mereka.

Pada tanggal 30 November 2010, setelah hampir dua bulan berada di pengungsian, para penyintas yang selama ini tinggal di Manokwari, 8 jam naik kapal dari Wasior, pulang. Walaupun kepulangan tersebut memberi secercah harapan baru, namun mendung masih menggelayuti masa depan setelah kembali pulang.

“Tidak tahu nanti bagaimana,” ujar seorang ibu sambil mengemasi barang-barangnya, menanti giliran angkutan yang akan membawanya ke pelabuhan. Para penyintas ini hanya tahu bahwa mereka akan diantar ke pelabuhan, berangkat sore itu juga menuju kampung halaman mereka, namun setelah itu gelap. Tidak tahu mereka akan tinggal di mana, dengan siapa, dan pada siapa mereka harus bertanya.

Hunian sementara konon telah selesai, dan para relawan yang membangunnya kini mulai berdatangan di Manokwari, mengambil tempat di tenda-tenda pengungsian yang tadinya digunakan oleh mereka yang kini akan menggunakan hunian tersebut. Tapi nyatanya tak ada seorang pun yang pernah memberi tahu penyintas, bagaimana mereka akan mendapatkan hunian itu, di manakah letaknya dan siapa saja yang berhak mendapatkan.

Mereka telah didata puluhan kali, ditanya ratusan kali dan menunggu sekian lama; tetap saja “tidak tahu” sudah seperti kaset rusak yang diputar berulang kali.

Sekarang, setelah tergilas oleh pemberitaan dua “adiknya” yang lebih menyita perhatian media; para penyintas tersebut harus berjuang sendiri. Relawan pun semakin sedikit yang masih berada di Wasior, entah berpindah ke bencana berikutnya; atau karena sejalan dengan menipisnya pemberitaan, menipis pula rupiah yang diperlukan untuk meneruskan kegiatan.

Sementara kantong para penyintas sejak awal tak pernah berisi, mereka lari meninggalkan kampung halaman, hanya dengan pakaian yang melekat di badan. Pakaian yang satu itu pun terbalut lumpur. Semua kehidupan dan penghidupan mereka hilang sudah; tanpa punya kejelasan, apakah nanti penghidupan mereka akan pernah kembali seperti sedia kala.

Lalu kini, tinggalah kita. Akankah kita masih peduli? Ataukah kita juga akan lupa…

About oaseindisasters

Oase in Disaster - Yakkum Emergency Unit This blog is official blog of Yakkum Emergency Unit Member of ACT Alliance and Member of Humanitarian Forum of Indonesia. The contents of this blog covers the YEU's activities related to emergency responds activities in Indonesia. Currently, we are working in emergency respon in three different areas; to respond Wasior flash-flood affected people in Manokwari, West Papua, tsunami-Mentawai affected people in Mentawai, West Sumatera, and Merapi Volcano Eruption in Central Java and Yogyakarta. At the national level, we are coordinating within the network of Humanitarian Forum of Indonesia (HFI) and at the International level we're coordinating with Global Network for Disaster Reduction and ACT Alliance. Email: yeu@yeu.or.id Follow us in twitter @yeu2001 www.yeu.or.id www.actalliance.org www.humanitarianforumindonesia.org
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s