Gemsu Imanuel: Kehidupan Baru yang Menjadi harapan

“Tsunami sungguh diluar dugaan, kami selalu diajarkan tsunami akan datang 15 menit setelah gempa, namun ini tidak sampai 5 menit kakak” kata Dirman pengungsi asal Bulakmonga

 

25 Oktober 2010, ketika malam tak berbintang dan hanya sayup-sayup deburan ombak yang terdengar. Memang malam dimana tidak seperti malam – malam pada biasanya, malam itu dingin…dingin seakan tidak pernah ada hangat di bumi. Malam itu adalah malam yang luar biasa. Malam dimana Mentawai menangis karena deburan ombak yang tidak biasa. Deburan yang menghapus kenangan serta hidup 195 masyarakat Mentawai di dusun Sabeugunggung. Deburan ombak yang tak biasa itu adalah tsunami.

 

Esok hari, pagi-pagi sekitar pukul 7, masyarakat yang lolos dari terkaman tsunami kembali ke dusun untuk mengais sisa-sisa dari puing-puing yang tak berbentuk lagi. Sungguh alangkah terkejut dan takjub ketika sesosok bayi mungil yang masih berdetak lemah berbalut lumpur hitam pekat nampak di antara puing. Bayi itu sungguh mungil dan tak berdaya, lemah terkulai dan yang kemudian dibaringkan pada ranjang di pengungsian Gereja Sikakap setelah berjuang untuk bertahan hidup melawan derasnya terjangan tsunami. Bayi mungil berusia 3 bulan ini terpisah dari kedua orang tuanya saat tsunami menyapu habis dusun Monte malam itu. Pagi itu, gereja yang hikmat dan sunyi itu berubah menjadi riuh teriakan serta jeritan memekakkan telinga. Bangunan yang cukup luas itu seakan tak kuasa menampung besarnya arus pengungsi yang panik, takut serta kesakitan oleh hentakan gempa dan terjangan tsunami.

 

Kedua orangtua sang bayi mungil ditemukan selamat namun naas kakak pertama sang bayi mungil ditemukan sudah tiada sedangkan kakak keduanya terseret ombak entah kemana dan masih nihil keberadaannya hingga kini. Kondisi kedua orang tua sang bayi juga tidaklah cukup baik, luka terhantam balok-balok kayu saat tsunami meluluh-lantakkan dusun mereka serta syok berat atas kehilangan kedua buah hati mereka.

 

“aku tidak bisa sanggup menyusui bayiku” terucap lirih dari mulut Minarti, ibu sang bayi.

 

Minarti sangat syok, semua diluar batas kewajarannya. Sebulanpun berlalu di pengungsian, Minarti tetap tak berdaya dan tidak mau menyusui sang bayi mungil. Sekali lagi sang bayi dapat bertahan walau dari empati orang-orang di sekitarnya. Kondisi pengungsian pun dari hari ke hari semakin memburuk, kotor, becek, bau dan penuh sesak.  Situasi ini membuat dokter yang melakukan pelayanan di pengungsian menganjurkan agar Minarti membawa sang bayi mungil kembali ke rumah karena suasana pengungsian yang sangat tidak bersahabat untuk bayi berumur 3 bulan itu. Sang dokter menyatakan bahwa sang bayi sudah jauh lebih baik dan ia yakin kondisi sang bayi akan lebih baik bila tidak di pengungsian.

 

  “aku bingung, kemana aku harus pulang?” terlintas dalam benak Minarti

 

Tidak hanya Minarti, orang-orang yang mendengar anjuran sang dokter pun cukup bingung karena jangankan rumah, seluruh desa sang bayi kini hanya tinggal kenangan, tidak ada yang tersisa. Sungguh – sungguh dahsyat tsunami malam itu.

 

Sang bayi mungil memang penuh berkat, walau belum pulih benar, terlihat kurus, masih lemah dan sesekali batuk, ia tetap bertahan. Sang bayi pun menggerakkan hati seorang ibu, Martha Suranti namanya. Ia beserta keluarga memutuskan untuk merawat sang bayi dan Minarti hingga kondisi lebih baik. Mendengar kabar gembira ini, seluruh pengungsi pun bersuka-cita dan suasana haru pun menyelimuti gereja. Sang bayi pun kembali mendapatkan kehangatan keluarga seperti yang ia pernah rasakan.

 

Beberapa minggu berlalu, Minarti dan suami harus berpisah dengan keluarga Martha Suranti. Suasana haru, ketika sang bayi mungil dan orang tuanya pergi untuk menempati hunian sementara atau yang sering disingkat menjadi Huntara. Hunian baru sang bayi dan orang tuanya terletak di kilometer 4 atau yang terkenal dengan sebutan lingkar 8 yang berupa jalan bertanah liat dan berbatu yang melingkar menghubungkan kecamatan Sikakap dengan kecamatan Pagai Utara. Huntara berupa rumah kayu sederhana bertembok triplek dan beratap seng dengan ukuran 5×6 tertata rapi baris – berbaris mirip dengan barak tentara. Memang mirip dengan barak tentara karena bangunan pemerintah ini memang dikerjakan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI). Hunian Minarti dan sang bayi adalah hunian baru yang kosong tanpa ada perabotan sama sekali, ruang tak bersekat dan tidak memiliki kamar mandi dan dapur. Situasi semakin sulit saat air bersih pun tidak tersedia. Minarti dan sang bayi diharuskan kembali beradaptasi dengan situasi baru yang penuh keterbatasan.

 

Dengan keadaan baru yang cukup sulit, Minarti masih tetap saja tidak mau menyusui sang bayi mungil. Minarti masih terbayang akan wajah-wajah anaknya yang lain yang telah pergi terlebih dulu meninggalkannya. Sang bayi mungil yang masih berumur 3 bulan itu jelas membutuhkan asupan gizi yang cukup agar dapat kembali pulih namun apalah daya ketika sang Ibu masih syok berat serta sang ayah sulit mencari nafkah seperti biasa karena jauhnya laut dan kebun dari huntara.

 

Tidak adanya akses kesehatan yang memadai di huntara serta besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk transportasi menuju Puskesmas Sikakap hingga 60 ribu rupiah membuat orang tua berpikir dua kali hingga sang bayi tidak pernah mendapatkan penanganan yang cukup untuk pemulihannya. Hingga suatu masa, pada January 2011, tim kesehatan YAKKUM Emergency Unit (YEU) datang dan rutin memeriksa kondisi sang bayi. Bantuan susu untuk pemulihan berat badan diberikan setiap 2 kali dalam seminggu. Penguatan pada sang ibu agar mau menyusui sang bayi juga dilakukan karena semahal-mahalnya susu bubuk, adalah jauh lebih baik air susu ibu. Selang beberapa waktu, walau berat badan tidak naik secara drastis, sang bayi mungil nampak lebih membaik dan dapat tersenyum.

 

Senyum sang bayi adalah harapan dan pembangkit semangat Minarti dan sang suami yang telah kehilangan 2 orang anak mereka. Sang bayi mungil hingga kini pun terus saja tersenyum ditengah keterbatasan dan sarana huntara yang jauh dari baik. Sang bayi pun tetap bertahan sampai saat ini, dan untuk mengenang kegigihannya dalam bertahan hidup, sang bayi pun diberi nama Gemsu Imanuel. Gemsu yang berarti Gempa Tsunami dan Imanuel yang diambil dari Alkitab yang berarti Allah berserta kita.

 

“life isn’t always fair, children don’t stop dancing, believe you can fly away…” adapted from Creed 

(Prasetio Wijaksono)

Gemsu_imanuelTemporary_housingTemporary_housing2

About oaseindisasters

Oase in Disaster - Yakkum Emergency Unit This blog is official blog of Yakkum Emergency Unit Member of ACT Alliance and Member of Humanitarian Forum of Indonesia. The contents of this blog covers the YEU's activities related to emergency responds activities in Indonesia. Currently, we are working in emergency respon in three different areas; to respond Wasior flash-flood affected people in Manokwari, West Papua, tsunami-Mentawai affected people in Mentawai, West Sumatera, and Merapi Volcano Eruption in Central Java and Yogyakarta. At the national level, we are coordinating within the network of Humanitarian Forum of Indonesia (HFI) and at the International level we're coordinating with Global Network for Disaster Reduction and ACT Alliance. Email: yeu@yeu.or.id Follow us in twitter @yeu2001 www.yeu.or.id www.actalliance.org www.humanitarianforumindonesia.org
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s