“Mabesiute”

Mabesiute

Maret 2011*
Maret ini, cuaca sungguh tidak ramah. Warna hitam langit senantiasa menampakkan diri dari hari ke hari. Seperti raja yang hebat yang ingin selalu ingin menunjukan kesaktiannya, langit gelap selalu mengancam dengan tiupan angin kuat, dinginnya udara dan tetesan deras air dari awan hitam.  
Pagi itu cuaca cukup bersahabat, mendung namun tidak hujan, terasa dingin sesekali saat angin terhembus dari arah Samudera Hindia. Sebelum kami meluncur menuju area dampingan, seperti hari-hari biasa lainnya, kami sibuk melakukan persiapan mulai dari mengecek ban sepeda motor, apakah kempes atau mungkin bocor ataupun apa bila ada bagian ban yang sudah sangat halus sehingga akan mudah sobek nantinya. Kami juga memastikan apakah pompa ban dan ban cadangan serta peralatan bongkar ban sudah tersedia serta tak lupa bensin cadangan sebanyak 5 liter karena sepanjang perjalanan pulang pergi kecamatan Sikakap menuju kecamatan Saumanganyak tidak akan ditemui penjual bensin ataupun tukang tambal ban. Mau tidak mau, persiapan yang matang setiap kali kami ke lapangan menjadi kewajiban.
Kami pun berangkat sekitar pukul sepuluh pagi menyesuaikan situasi pasang surut air laut. Perjalanan ditempuh selama tiga jam. Hujan deras dan bawaan kami yang cukup banyak memaksa kami harus berhati-hati dan  memeperhatikan setiap lubang yang tertutupi genangan air akibat hujan semalaman. Ternyata kesulitan ini belum cukup, air laut mulai pasang dan kami harus beberapakali mendorong motor di hutan bakau dan mencari jalan yang lebih baik.  
Kami  terlambat tiba, kami terlambat 30 menit tiba di Mapinang Utara Saumanganyak. Alangkah cemasnya hati ini, yang memaksa kami memutar otak untuk mencari cara agar masyarakat yang menunggu kami tidak marah dan kecewa. Beberapa hari lalu, kami memang berjanji akan datang untuk berkumpul, bertemu dan berbagi rasa tepat pukul tiga di sore hari.
Kami pun sampai ke tempat yang telah disetujui sebagai tempat berkumpul. Dan saat kami menjejakkan kaki di pekarangan rumah ina Fatimah Rut, nampak tidak ada seorang pun ibu yang terlihat. Dengan semangat untuk minta maaf, kami melangkah cepat dengan harapan kegiatan masih dapat dilaksanakan. Ekspresi penyesalan selalu kami tunjukan kepada ibu-ibu yang menatap kami saat melewati rumah. Lega, sedikit lega karena ibu-ibu membalas senyuman seolah mengerti apa yang kami maksudkan. Dengan semangat empat lima bak pejuang jaman kakek kami dulu, kami memanggil ibu-ibu dari rumah ke rumah dibantu Ibu Rut, agar para ibu dapat berkumpul sesuai dengan rencana semula. Dan perjuangan kecil kami terbayar, ketika berduyun para ibu datang menuju rumah Zending.
Pukul empat sore tepat, ibu-ibu sudah duduk rapi dan siap untuk beraktivitas bersama kami. Tanpa membuang waktu pula, kami melanjutkan dengan  mapping keluhan. Ibu-ibu sangat antusias untuk menunjukan dan menceritakan apa yang mereka rasakan. Para Ibu dengan semangat menempelkan setiap potongan kertas berwarna-warni yang ditempelkan tepat di bagian kepala dari gambar anatomi tubuh manusia yang diletakkan di lantai yang beralaskan tikar dan secara teratur serta bergiliran, ibu-ibu tersebut menempelkan potongan kertas untuk menunjukan keluhan sambil menceritakan apa yang mereka alami dan rasakan. Setiap ibu menempelkan keluhan mereka, saya selalu memperhatikan setiap gerak –gerik wajah mereka dan menyadari bahwa sejak tadi ibu-ibu yang  maju selalu menempelkan dibagian kepala dan menceritakan bahwa mereka sakit kepala. Saya selalu  melanjutkan dengan beberapa pertanyaan dan selalu berharap ibu-ibu dapat menceritakan apa yang mereka rasakan. Jumlah ibu yang mempelkan keluhan 14 orang dan semua menempelkan di bagian kepala sambil mengatakan “mabesiute” yang dalam bahasa Mentawai artinya sakit kepala. Saya melanjutkan dengan beberapa pertanyaan untuk mendapatkan informasi dan berharap mendapatkan cerita dari setiap ibu. 
“Kami sakit kepala karena keladang terus dan mungkin karena panas matahari” kata –kata ini yang terucap dari para Ibu dan setiap jawaban yang disampaikan hampir tidak jauh berbeda.
Pada akhirnya ada 7 ibu yang dengan ekspresi wajah yang serius memberikan jawaban berbeda. Salah satunya adalah Ibu Esti yang berumur 26 tahun, dengan kemampuan bahasa Indonesia yang terbatas menjawab dan bercerita, “kami sekarang bingung harus kemana lagi, hidup susah, bencana dimana-mana. Kami setiap hari harus naik-turun ambil sikobo (sikobo berarti talas dalam bahasa Indonesia) yang ada dikampung lama. Setiap malam kalau angin kencang dan hujan, kami susah tidur, perasaan tidak tenang karena takut.
Ibu Rut (31) pun ikut andil bersuara dan menyampaikan bahwa saat ini mereka juga takut tentang isu gempa Siberut.
Mendengar jawaban ibu  Esti dan Ibu Rut semakin memperkuat keyakinan kami bahwa ibu-ibu tersebut mengalami kecemasan dan sebagaimana yang disampaikan Dokter Tay dari YAKKUM Emergency Unit saat melakukan pelayanan kesehatan (mobile klinik), bahwa banyak ditemui masyarakat di area yang terdampak serta area rawan bencana mengalami psikosomatis. Isu – isu gempa besar yang mungkin akan menyambangi Mentawai dalam beberapa waktu kedepan memang bukan rahasia lagi, hampir seluruh measyarakat mengetahui, Namun memang akan membuat “mabesuite” atau sakit kepala tatkala pemangku kepentingan dan organisasi-organisasi non pemerintah tidak dapat membungkus isu ini menjadi cerita yang bermanfaat – isu ditangkap oleh masyarakat awam di Mentawai menjadi suatu momok menakutkan, mengerikan dan identik dengan kematian dan kehancuran dan bukan untuk memberikan pengetahuan, inisiatif dan memperbaiki atau mempersiapkan upaya-upaya mitigasi dan kesiap-siagaan.  
(erni/prasetio/2011)

About oaseindisasters

Oase in Disaster - Yakkum Emergency Unit This blog is official blog of Yakkum Emergency Unit Member of ACT Alliance and Member of Humanitarian Forum of Indonesia. The contents of this blog covers the YEU's activities related to emergency responds activities in Indonesia. Currently, we are working in emergency respon in three different areas; to respond Wasior flash-flood affected people in Manokwari, West Papua, tsunami-Mentawai affected people in Mentawai, West Sumatera, and Merapi Volcano Eruption in Central Java and Yogyakarta. At the national level, we are coordinating within the network of Humanitarian Forum of Indonesia (HFI) and at the International level we're coordinating with Global Network for Disaster Reduction and ACT Alliance. Email: yeu@yeu.or.id Follow us in twitter @yeu2001 www.yeu.or.id www.actalliance.org www.humanitarianforumindonesia.org
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s