KETIKA MASYARAKAT KORBAN MENJADI BERDAYA: KISAH PENYINTAS DI WASIOR

Fgd_di_huntara

Manokwari, 7 September 2011

Hari menjelang sore ketika tiba di hunian sementara (huntara) yang terletak di kampung Kabuow, Distrik Wondiboy. Selama rangkaian kunjungan ke huntara yang tersebar di Distrik Wasior dan Distrik Wondiboy, inilah huntara dengan konsentrasi warga paling banyak. Huntara Kabuow memiliki 30 barak, dan tiap barak terdiri atas 12 kamar, sehingga secara keseluruhan huntara ini menampung 360 keluarga dengan total 1.436 jiwa.

Kami berjalan melewati lorong barak yang ditingkahi riuhnya aktivitas di sore itu; seorang mama yang duduk menjual sirih pinang, anak-anak yang berlarian, orang yang bersiap untuk mengantri mandi, tukang cukur dadakan di muka barak, dan tukang ojek yang baru kembali dari kota. Kami terus berjalan menuju balai pertemuan diiringi tatapan penasaran para penghuni huntara. Sesampai di balai pertemuan kami harus menunggu beberapa waktu kedatangan pengurus huntara yang bersedia datang. Mereka akhirnya datang satu per satu; Bapak Frans Senandi, Bapak John Kerewai, Bapak Ruben Auri dan Bapak Alex Wambraw.

Percakapan ringan sore itu memunculkan fakta seputar kehidupan di huntara. Mereka menyampaikan bahwa warga telah mendiami huntara lebih dari 8 bulan. Apa yang membuat mereka mampu bertahan selama itu? Jawabannya terletak pada kebersamaan dan harapan. Latar belakang agama dan kesukuan di huntara ini sangat beragam, tetapi hal ini tidak melunturkan semangat kebersamaan. Terbukti ketika mereka tetap menjalankan “hari Jumat bersih” secara bergotong-royong ataupun pada saat peribadatan di mana warga Kristen dapat pergi ke gereja darurat dan warga Muslim dapat menjalankan sholat di masjid darurat.

Ada satu harapan yang diamini semua orang, yaitu mendapatkan kembali kehidupan yang layak dan bermartabat. Bagaimana caranya? Hal ini dicapai dengan terus memperjuangkan hak mereka atas jatah hidup (jadup) dan kepastian menerima hunian tetap (huntap) seperti yang dijanjikan pemerintah. Masih jelas dalam ingatan mereka bahwa Presiden dan Menteri Sosial pernah menyampaikan bahwa masyarakat korban “akan mendapatkan jadup sampai nanti menerima huntap”. Pada kenyataannya, mereka baru mendapatkan jadup sekali Rp. 150.000 di tahun 2010, dan hingga saat ini belum ada kabar dari pemerintah mengenai rencana huntap; apakah diperbolehkan kembali ke kampung asal atau relokasi. “Nanti kitorang hidup di mana?”, itu yang senantiasa menjadi kekhawatiran.

Atas dasar hal-hal tersebut, warga berinisiatif melakukan pergerakan bersama untuk mengusung tuntutan ke DPRD Provinsi di Manokwari untuk meminta pertanggungjawaban atas hak-hak tersebut. Pergerakan bersama yang dimotori oleh Tim 43 ini dikepalai oleh Bapak David Wompere, warga huntara Kabuow. “Ini suatu bentuk perjuangan rakyat yang murni mengusung kepentingan penyintas di huntara”, kata Bapak Frans. Keberangkatan ke Manokwari tentu tidak mudah dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kami penasaran dari mana tim ini mendapatkan sokongan dana. Ternyata dukungan mengalir dari sumber-sumber yang tidak diduga, seperti pengelola kapal yang memberikan potongan harga untuk mengangkut rombongan dan iuran sesama penghuni huntara untuk bertahan di Manokwari.

Pemerintah Provinsi bereaksi dengan langsung menyanggupi untuk mengirimkan 60 ton beras untuk didistribusikan ke seluruh huntara. Tetapi belum ada reaksi nyata untuk tuntutan utama; jadup dan huntap.

Percakapan harus kami akhiri karena sudah petang dan perjalanan menuju kota cukup lama. Tetapi kami tahu bahwa perjuangan mereka belum berakhir sebelum mendapatkan apa yang menjadi hak mereka. Bahkan ketika hari berganti petang, dan malam menjadi pagi, mereka tetap berupaya mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan bermartabat. (AMT)

Anastasia Maylinda

YAKKUM Emergency Unit (YEU)
Jl. Nusantara 4, no. 02
Kelurahan Wosi, Kecamatan Manokwari Barat
Manokwari, Papua Barat
98312
Tel./Fax. +62 (0) 986 212262

Be content with what you have; rejoice in the way things are. When you realize there is nothing lacking, the whole world belongs to you” (Lao Tze)

About oaseindisasters

Oase in Disaster - Yakkum Emergency Unit This blog is official blog of Yakkum Emergency Unit Member of ACT Alliance and Member of Humanitarian Forum of Indonesia. The contents of this blog covers the YEU's activities related to emergency responds activities in Indonesia. Currently, we are working in emergency respon in three different areas; to respond Wasior flash-flood affected people in Manokwari, West Papua, tsunami-Mentawai affected people in Mentawai, West Sumatera, and Merapi Volcano Eruption in Central Java and Yogyakarta. At the national level, we are coordinating within the network of Humanitarian Forum of Indonesia (HFI) and at the International level we're coordinating with Global Network for Disaster Reduction and ACT Alliance. Email: yeu@yeu.or.id Follow us in twitter @yeu2001 www.yeu.or.id www.actalliance.org www.humanitarianforumindonesia.org
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to KETIKA MASYARAKAT KORBAN MENJADI BERDAYA: KISAH PENYINTAS DI WASIOR

  1. maylinda_yeu says:

    Terima kasih atas informasi ini. Sekarang kita memang baru sebatas memetakan persoalan di huntara. Syukur kalau besok sudah bisa menggandeng mreka juga. FYI: renaksi Wasior sudah ditetapkan. Pemda punya jatah utk bangun huntap & BPBD Prov kebagian utk normalisasi kali & infrastruktur besar yg lain. Yahasmeroo! (Linda)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s