Kronologis Konflik Ambon, Minggu 11 September 2011

Yth kawan-kawan sekalian 
Berikut informasi yang didapatkan oleh jaringan JaRI (Jaringan Rakyat Berdaya dan Siaga Indonesia) di Ambon melalui koordinator KPM (Koalisi Pengungsi Maluku) yaitu Bung Piet ( Piet Pattiwaellapia ) yang mendapatkan informasi langsung dari lapangan serta pertemuan-pertemuan yang dilakukan dengan masyarakat, menyebutkan,

Konflik Ambon Minggu, 11 September 

dipicu oleh karena meninggalnya seorang tukang ojek warga Waihaong yang bernama Darmin Saiman, beragama Muslim.  Kabar tewasnya korban menyebar luas dengan cepat. Informasi pun simpang siur. Ada yang mengatakan korban tewas dibunuh, sedangkan informasi lainnya Saiman meninggal murni akibat kecelakaan lalu lintas (lakalantas).

Korban pada Sabtu (10/9), sekitar pukul 21.00 WIT, mengantarkan penumpang ojek asal Gunung Nona (daerah komunitas Kristen). Sepulangnya dari Gunung Nona, ia mengalami lakalantas di seputaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, dan oleh warga setempat dilarikan ke RSUD Haulussy Ambon. Namun sayangnya, nyawa korban tidak dapat tertolong / meninggal dunia setelah dibawa ke rumah sakit. Informasi meninggalnya korban ini menyebar luas dan ada pihak yang sengaja mempolitisir dengan mengabarkan bahwa yang bersangkutan meninggal akibat dibunuh.

Sekitar pukul 14.00 WIT, konsentrasi massa mulai terjadi di kawasan Waringin Tanah Lapang Kecil (Talake). Bahkan warga yang mendiami kawasan perbatasan di Talake mulai mengungsi ke sejumlah sanak saudara mereka di tempat yang aman seperti Wainitu, OSM dan sekitarnya.
Disaat yang bersamaan, keluarga korban sementara melangsungkan prosesi pemakaman korban di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Muslim Mangga Dua – Ambon. TPU ini berlokasi di pemukiman Kristen.

Sekitar pukul 14.30 WIT, usai pemakaman dan keluarga hendak pulang, ternyata mereka,  mulai melempari siapa saja yang ditemui di tengah jalan entah pejalan kaki maupun kendaraan yang lewat.
Massa semakin beringas manakala lima unit sepeda motor milik pengojek Kristen dibakar dan satu unit angkutan kota jurusan Air Salobar dilempari dengan batu.
Sementara itu, dua jam kemudian, konsentrasi massa semakin brutal terlihat memenuhi kawasan jalan AM Sangadji (komunitas Muslim).  Massa mulai beringas akibat provokator begitu cepat menyebarkan isu yang menyesatkan. Issu yang dikembangkan adalah Darmin Saiman meninggal karena di bunuh oleh orang Kristen.

Awal konflik terjadi dimulai dengan saling baku lempar batu.  Akibat dari konflik ini delapan diketahui meninggal dunia,  5 di komunitas Muslim dan tiga di Komunitas Kristen. Kedelapan orang ini meninggal akibat diterjang timah panas (tidak tau siapa yang menembak). Sementara puluhan orang dinyatakan mengalami luka-luka akibat lemparan batu dan benda tumpul lainnya. Data yang saya peroleh dari salah satu teman Medis (kebetulan) yang bertugas di Rumah Sakit Dr. Haulusi Ambon,  sebanyak 44 orang dirawat akibat mengalami luka-luka yang cukup serius (dipastikan komunitas Kristen) , sementara di RS Al-Fatah sebanyak 65 orang dirawat akibat mengalami luka-luka  (dipastikan Muslim) dan RS Bhakti Rahayu sebanyak 14 orang juga mengalami luka-luka (dipastikan Kristen).
Konsentrasi massa tidak hanya terjadi di Jalan AM Sangadji (komunitas Muslim), akan tetapi saling baku lempar juga terjadi di kawasan Talake, bahkan informasi yang berhasil dihimpun sejumlah rumah di kawasan itu ikut terbakar. (belum ada data pastinya karena belum bisa masuk ke sana – percakapan dengan salah satu teman sebagai kontak person juga ybs belum tahu persis berapa rumah yang terbakar)
Tidak hanya korban meninggal dan luka akibat lemparan benda-benda tumpul dan tajam, tetapi sejumlah kendaraan baik roda dua maupun roda empat yang sedang terparkir di kawasan jalan AM Sangadji juga menjadi korban amukan massa. Kendaraan-kendaraan ini oleh massa dihancurkan kemudian dibakar. Massa menjadi beringas, lantaran polisi juga lemah dalam pengamanan. Hal itu terbukti dengan minimnya aparat kepolisian untuk mengamankan massa. Sedikitnya tiga sampai empat orang personil polisi saja yang menghalau massa dari dua kelompok.

Fakta ini yang membuat ketua Sinode GPM Pdt. DR. John Ruhulessin  mengecam kinerja aparat kepolisian di lapangan.  Kecamannya, bukan saja terhadap kinerja polisi pada saat melerai konflik, tapi justru ada pembiaran polisi terhadap aksi anarkis saat selesai pemakaman Darmin Saiman. Sebagai informasi, pemakaman ybs dikawal oleh kepolisian. Ini artinya ada kondisi darurat sehingga pemakaman seorang rakyat biasa harus dikawal. Namun, polisi membiarkan tindakan anarkis terjadi dengan masif.

Beberapa jam kemudian setelah massa terkonsentrasi, baru puluhan personil Brimob Polda Maluku tiba di kawasan AM Sangadji (kawasan Muslim). Tak lama kemudian ratusan personil Batalyon Infantri 733/Raider juga tiba.  (Ini tidak beda dengan adegan  film India saja).

Gubernur Maluku KA Ralahalu, Pangdam XVI Pattimura Mayjen TNI Suharsono, Kapolda Maluku Brigjen Polisi Syarief Gunawan, Wagub Said Assagaff, Walikota Richard Louhenapessy juga terjun langsung ke lapangan (di sekitar kawasan Tugu Trikora)  untuk menenangkan massa yang berkerumun di ruas Jalan AM Sangadji maupun ruas Jalan dokter Sutomo.
Usai menenangkan massa di kawasan tersebut, mereka juga menuju kawasan Batu Gantung untuk melakukan hal yang sama. (Kawasan ini terjadi pembakaran rumah-rumah penduduk, baik Muslim mapun Kristen)

Situasi dan kondisi Kota Ambon baru dapat dikendalikan sekitar pukul 19.00 WIT.  Namun,  Senin (12/9) dinihari pada lokasi /kawasan Mardika terjadi lagi penyerangan dan pembakaran rumah-rumah milik  warga Kristen, pagi sekitar jam 10.00 Wit saya miliki informasi dari salah satu Saudara saya yang rumahnya juga terbakar, jumlah rumah di kawasan merdeka yang terbakar berjumlah  17 rumah.
Penjelasannya, pantauan  tidak ada korban jiwa akibat terbakarnya sejumlah  rumah di Mardika , karena masyarakat sudah terlebih dahulu mengungsi ke tempat yang dianggap aman. (sebagai info,  kawasan Mardika (kristen)   berbatasan langsung dengan kawasan Batu Merah (muslim)
Aparat keamanan terlihat baru tiba di lokasi kejadian sekitar 45 menit kemudian, sementara kobaran api telah menghanguskan sejumlah tersebut. Padahal jarak lokasi terbakar dengan asrama tentara di batu merah hanya 200 meter. Aparat keamanan terlihat langsung menyekat daerah yang terbakar serta mengantisipasi pergerakaan massa yang mencoba bergerak mendekati lokasi tersebut.

Sampai kronologis ini ini tulis (jam 16.00 Wit) oleh Bung Piet situasi Ambon sudah kondusif.

LOKASI LOKASI KONFLIK
         Tanah Lapang Kecil (talake) daerah Kristen – lokasnya Kampus UKIM (Universitas Kristen Indonesia Maluku)
         Waringin (Muslim) – Belakang Markas Polres Pulau Ambon dan Pulaua-Pulau Lease (jaraknya hitungan meteran)
         Mardika (Kristen)

KONDISI UMUM PENGUNGSIAN
         Pegungsi dari Talake mengungsi ke Keluarahan Kudamati
         Pengungsi Waringin mengungsi ke masjid al-fatah, SD Tawiri (bel RS Tentara)
         Pengungsi Mardika mengungsi ke rumah-rumah keluarganya dan sebagian di Guest House Mulia (sewaktu di Ambon, Mas Agung dan Mba Linda nginap di sini)

MITIGASI KPM.
Dengan jaringan yang dimiliki KPM terutama kontak person – kontak person yang sementara memperjuangkan hak-hak  pengungsi pasca konflik 1999 via Mediasi Komnas, KPM coba melakukan beberapa langkah Mitigasi sebagai berikut :
1.      Merasionalkan pemicu konflik sebagai persoalan hukum, karena aparat keplosian telah melakukan olah TKP, dan kesimpulannya adalah kecelakaan tunggal. Artinya Darmin Saiman  [DS] meninggal akibat kehilangan kendali kendaraan, menabrak pohon gadihu/puring sempat dibawah ke RS oleh warga sekitar TKP lakalantas. Rasionalitasnya, kalau tuduhan kelompok Muslim bahwa  DS dibunuh oleh orang Kristen, sesuatu yang sangat kontradiktif, karena warga disekitar TKP yang menolong untuk membawa ke RS, mengamankan motornya, Hp dan dompetnya malah menelopon pihak keluarga korban  dengan menggunakan HP korban.
2.      Memintakan semua teman dan jaringan untuk merasionalkan ini ke tetangga-tetangga bahkan melalui sms ke teman-teman  lainnya.
3.      Khusus untuk teman-teman yang berdampingan (Hunuth/Kristen – Kate-Kate/Muslim) untuk melakukan koordinasi dengan pemangku kekuasaan setempat). Sempat langkah ini mendapat kendala dengan ulah sms provokatif, namun ketika saya mendapat sms provokatif itu dari teman-teman  muslim di kate-kate, (isi smsnya, sudah terjadi pembakaran Masjid di kota Ambon) saya coba untuk mengklarifikasinya ke beberapa teman yang ada di kate-kate, bahwa isu itu tidak benar karena saya sekarang ada di Kota Ambon. Akhirnya isu ini terkubur dengan sendirinya.  Langkah selanjutnya,  adalah saya langsung telepon dengan menggunakan media Telekonfrens yang ada di HP untuk berbicara langsung dengan Sakila (muslim kate2) dan Bung Frans -Kristen Hunuth)  dan mengharapkan mereka untuk perbesar speaker hp mereka supaya teman-teman disekitar mereka mendengar penjelasan saya, menjelaskan fakta keadaan Kota Ambon yang sebenarnya. Kiat ini yang saya lakukan nyaris sama di beberapa titik komunitas yang berdampingan.
4.      Menindaklanjuti mitigasi yang lebih konkrit lagi, setelah mereka semua yakin ( baca – saling percaya) disarankan untuk melakukan pertemuan-baca terbatas lintas tokoh kunci (pemuda dan RT/kepala dusun) untuk melakukan sosialisasi visual langsung ke masyarakat.
5.      Untuk area di luar P. Ambon, malam itu saya ditelepon oleh beberapa teman karena membaca running teks di TV, saya jelaskan faktanya, tapi juga berinisiatif menelepon beberapa teman yang ada di Desa Nuniali, Wakolo, Patahue  (kristen) dengan Raja Lasabata (Muslim) menjelaskan [persoalan yang sebenarnya dan memintakan mereka untuk bisa mengklarifikasi langsung ke saya tentang perkembangan demi perkembangan yang terjadi di kota Ambon. Hal yang sama juga di desa Kariu (kristen) kec. Pulau Haruku. Di Pulau Haruku, beberapa Raja telah melakukan road show dari desa ke desa untuk memberikan jaminan bahwa P. Haruku harus bebas dari konflik Ambon. Sementara dalam menulis laporan ini, bung Piet menelepon Pendeta Kariu dan sang Pendeta menjelaskan bahwa untuk lima desa sisa akan dilakukan sosialisasi besok (tgl 14 September).
6.      Untuk teman-teman yang korban langsung dan ada di tempat pengungsian, KPM hanya bisa mengadvokasi via HP untuk berkoordinasi dengan warga yang lain untuk membentuk semacam Tim Kecil internal Kamp untuk mempermudah koordinasi dengan berbagai pihak terutama untuk penanganan emergency melakukan pendataan Jumlah Pengungsi (KK, Jiwa, Laki2/perempuan, Lansia, Balita, ibu menyusui), asal pengungsi, dll.
7.      Koordinasi dengan dinas sosial kota Ambon untuk bantuan emergency, berjalan dengan baik, malah setelah bentuan disalurkan, staf dinas menelepon bung Piet, memberi tahu bahwa bantuan telah di salaurkan. Dinsos masih butuh kerjasama dengan KPM untuk validasi data sebaran pengungsi.

Demikian informasi in disampaikan dan semoga dapat menjadi bahan untuk kampanye untuk melakukan upaya klarifikasi dan juga perdamaian bagi masyarakat Ambon.

Terimakasih………………..

==================================
LAMPIRAN PERTAMA:

Berikut salinan Maklumat Majelis Latupati Maluku:

MAKLUMAT  MAJELIS LATU PATI MALUKU

Tabea Basudara,

1.      Dihimbau kepada semua Masyarakat adat di maluku, khususnya Kota Ambon untuk tidak terprovokasi dengan dengan isu-isu yang menghancurkan tatanan adat & budaya kita.
2.      Membantu pemerintah daerah dalam menjaga kamtibmas, menjamin keselamatan setiap masyarakat adat yang beraktifitas dalam wilayah hukum adat negeri masing-masing.
3.      Diharapkan agar tidak memblokir jalan pada semua akses transportasi.
4.      Apabila ada provokator/penyebar isu-isu, baik SMS atau apapun, segera ditangkap dan laporkan ke pihak berwajib.
5.      Diharapkan kepada pihak keamanan agar dapat menindak tegas siapapun dia yang mengacaukan situasi ini.
6.      Diharapkan kepada semua media, baik cetak maupun elektronik, dalam menyampaikan berita-berita yang sejuk dengan penuh kebersamaan.

Mari katong ciptakan suasana yang rukun dan damai di Negeri raja-Raja ini.

Hormate,

Ketua Umum, Raja Negeri Amahusu & Sekretaris Umum, Raja Negeri Siri Sori Islam.

=======
LAMPIRAN KEDUA:

Selanjutnya adalah titah Raja Negeri Tulehu serta Seruan dan Pemberitahuan Raja Negeri Kailolo, sesuai yang mereka kirimkan melalui SMS kepada bung Piet.

Titah Raja Tulehu:

1.      Masyarakat Tulehu diminta untuk tidak terprovokasi dengan isyu-isyu sesat.
2.      Menjaga kambtimas dan menjamin keselamatan setiap orang yang masuk dalam wilayah hukum adat negeri Tulehu.
3.      Apabila ada provokator/penyebar isyu sesat, segera ditangkap dan dilaporkan ke pihak berwajib.
4.      Pelabuhan Tulehu, RSU Tulehu, UNIDAR, Kantor Camat dan instansi lainnya terbuka untuk umum dan berfungsi sebagaimana biasanya.
5.      Tulehu tetap aman dan terkendali.

Tertanda : Raja Tulehu: John Saleh Ohorella

========================================

Seruan Raja Kailolo:

Ambon harus aman, Ambon harus damai untuk warisan anak cucu kita kelak. Mari katong lawan provokator karena merekka  adalah setan dan iblis yang harus dibasmi dari negeri tercinta ini. Semoga Ambon cepat pulih.

Salam basudara semua


Raja Negeri Kailolo: Azhar Ohorella

Pemberitahun Raja Negeri Kailolo:


Ass..Wr…Wb…!!!
Pemberitahuan: Kepada seluruh masyarakat Kailolo dimanapun berada
1.      Kepada masyarakat kailolo agar tidak terprovokasi dengan konflik yang terjadi di Kota Ambon.
2.      Bagi masyarakat Kailolo yang berada di Kota Ambon agar menjauhi wilayah perbatasan konflik.
3.      Bagi masyarakat Kailolo agar tidak dijadikan sebagai alat atau tameng oleh kelompok atau orang- orang tertentu.

Demikian pemberitahuan ini agar menjadi perhatian.

Wassalam
(tolong disebarkan kepada semua masyarakat Kailolo dimanapun berada)

Raja Negeri Kailolo: Azhar Ohorella

LAMPIRAN KETIGA:
(Teman’s Data dibawah ini  saya peroleh dari Pdt Jack Manuputty ).
Maaf saya baru bergabung untuk meng-update situasi Amq. Saya baru sempat online malam ini, setelah sejak hari Minggu sampai beberapa menit tadi terus menerus melakukan koordinasi lintas kawasan dengan jaringan perdamaian lokal, serta simpul-simpul LAIM. Sekedar tambahan berita untuk melengkapi yg sudah di-share teman lainnya, terutama terkait dengan upaya-upaya meredakan konflik:
1.      Segera setelah benturan terjadi pada Minggu sore, warga masyarakat Jazirah Salahutu yg terdiri dari beberapa Negeri Muslim (Tulehu, Liang, Tengah-Tengah) dan 1 negeri Kristen (Waai) berinisiatif melakukan pertemuan kawasan pada Minggu Malam, dan mendeklarasikan Jazirah Salahutu sebagai wilayah aman. “Raja” Negeri Tulehu, John Ohorella mengeluarkan maklumat bagi masyarakatnya dan meminta tidak terprovokasi dengan perkembangan situasi di pusat Kota Ambon.
2.      Pada malam yg sama, teman-teman jejaring perdamaian lokal mulai membangun contact via telpon untuk berbagi informasi, sekalipun jaringan telpon sangat terganggu. Beberapa kelompok pemuda mengupayakan pertemuan lintas iman, tetapi situasi yg berkembang tak memungkinkan.
3.      Pada hari Senin pagi, 12 /9/11, dilakukan pertemuan antara Muspida Maluku dengan tokoh-tokoh agama, adat, dan pemuda di Kantor Gubernur Maluku. Dibuat kesepakatan untuk melokalisir dan meredakan konflik pada titik-titik benturan warga (hanya terdapat 3 titik benturan pada hari Minggu. Sampai Senin pagi bertambah lagi satu titik benturan, namun 2 titik sebelumnya telah reda)
4.      Pada Senin siang, dewan Latupati Maluku yg diketuai oleh “Raja” Amahusu bersama sekretaris Dewan Latupati, “Raja” Sirisori Salam/Islam mengeluarkan seruan penghentian kekerasan dan membangun perdamaian
5.      Senin Sore, “Raja” negeri Kailolo mengeluarkan 2 maklumat. Satunya berisi seruan untuk masyarakat umum supaya tidak mengembangkan konflik. Lainnya dituj

About oaseindisasters

Oase in Disaster - Yakkum Emergency Unit This blog is official blog of Yakkum Emergency Unit Member of ACT Alliance and Member of Humanitarian Forum of Indonesia. The contents of this blog covers the YEU's activities related to emergency responds activities in Indonesia. Currently, we are working in emergency respon in three different areas; to respond Wasior flash-flood affected people in Manokwari, West Papua, tsunami-Mentawai affected people in Mentawai, West Sumatera, and Merapi Volcano Eruption in Central Java and Yogyakarta. At the national level, we are coordinating within the network of Humanitarian Forum of Indonesia (HFI) and at the International level we're coordinating with Global Network for Disaster Reduction and ACT Alliance. Email: yeu@yeu.or.id Follow us in twitter @yeu2001 www.yeu.or.id www.actalliance.org www.humanitarianforumindonesia.org
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s