Trio Kwek-Kwek, Srikandhi Dusun Ngemplak

 

(Catatan pengorganisasian penyintas erupsi Merapi dan banjir lahar dingin di Dusun Ngemplak, Desa Ngrajek, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dalam upaya merehabilitasi hidup mereka paska bencana – oleh Susilastuti* November 2011)

 

Timbunan pasir memenuhi hampir sepanjang mata memandang. Pasir-pasir itu memadati jalanan menuju Dusun Ngemplak, Desa Ngrajek, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Pun rumah-rumah penduduk tertimbun pasir setinggi hampir 1 meter hingga tidak lagi bisa ditempati untuk sementara waktu. Sungai Pabelan yang berhulu di Gunung Merapi itu tidak mampu lagi membendung deras arus banjir lahar dingin yang terjadi pada Januari 2011 lalu, alhasil 1 buah mushola rusak dan 64 rumah tertimbun pasir.

Kehilangan sawah yang selama ini menjadi andalan mereka dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga merupakan dampak lain dari banjir lahar dingin tersebut. Kolam lele yang selama ini menghasilkan bibit-bibit lele terbaik yang terkenal seantero Jawa Tengah sudah tidak bisa lagi memberi konstribusi pada sektor penghidupan. Belum lagi akses antar desa yang terhambat oleh putusnya jembatan penghubung antara Desa Ngrajek dan Desa Menayu. Permasalahan-permasalahan itulah yang mereka hadapi paska lahar dingin.

Peristiwa banjir lahar ini bukanlah peristiwa pertama yang dialami oleh warga Dusun Ngemplak. Tahun 1955, banjir lahar dingin atau yang biasa mereka sebut dengan istilah ladu juga pernah melanda dusun ini, tetapi tidak membawa dampak kerugian seperti yang terjadi pada Januari 2011 lalu. Mereka yang rumahnya rusak dan tertimbun pasir, tinggal selama 6 bulan di tenda yang dipusatkan di tanah lapang yang terletak di dusun sebelah dengan dilengkapi dengan sarana 4 buah MCK umum untuk memenuhi kebutuhan mandi dan buang air.

Tinggal di tenda, kehilangan sumber penghidupan sebagai petani dan peternak ikan, kehilangan akses jembatan penghubung antar desa membawa permasalahan yang semakin komplesk bagi Siwi , ibu rumah tangga yang berusia 38 tahun itu. Belum genap satu tahun ia kehilangan suami tercinta, tetapi penderitaannya digenapkan dengan rusaknya rumah, mobil angkutan yang biasa disewakan untuk mengangkut hasil panen lele bagi warga di sekitar ia tinggal, dan beberapa aset berharga lainnya. Belum lagi kedua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar yang juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

YEU (YAKKUM Emergency Unit) lembaga tempatku bekerja, yang merupakan unit emergency/tanggap darurat YAKKUM (Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum) dalam melakukan respon emergency atau tanggap darurat dengan memberikan bantuan non makanan kepada masyarakat Dusun Ngemplak yang tinggal di pengungsian tepat seminggu setelah banjir lahar. Kala itu kami bekerjasama dengan Gerakan Pemuda Ansor melakukan distribusi air, obat, pakaian, alat mandi dan selimut. Mandat lembaga kami yang fokus pada isu kesehatan dan pengelolaan bencana membuat kami masuk lagi ke Dusun Ngemplak pada bulan April 2011 untuk melakukan upaya peningkatan pengetahuan masyarakat dalam kesiap-siagaan bencana. Akan tetapi, untuk bisa masuk lagi ke Dusun Ngemplak bukanlah hal yang mudah. Bukan permasalahan lembaga kami yang berbasis Kristen dan mayoritas masyarakat sebagai Muslim, namun lebih kepada sulitnya membangun kepercayaan masyarakat kepada lembaga kami. Hal itu disebabkan karena wujud bantuan yang kami tawarkan adalah peningkatan pengetahuan masyarakat melalui pelatihan dan penyadaran terutama dalam kesiap-siagaan bencana bukan bantuan fisik seperti yang selama ini mereka terima dari lembaga lain.

Terbiasa mendapatkan bantuan langsung seperti beras, kasur, mi instant, dan barang-barang lainnya membuat pikiran mayoritas warga Dusun Ngemplak terpola dengan bantuan-bantuan instant dan tidak terbiasa dengan bantuan-bantuan yang menyentuh ranah keilmuan. Pertemuan atau rembug dusun jarang dihadiri oleh kaum lelaki karena mereka fokus pada penggalian dan penjualan pasir sebagai  media penghasil uang untuk mencukupi kebutuhan keluarga mereka. Sedangkan rembug/musyawarah dusun menjadi prioritas nomor sekian dari deretan prioritas lainnya.

“Susah Mbak membangun partisipasi dan kesadaran warga disini jika tidak ada embel-embel atau uang sebagai pengganti partisipasi yang sudah diberikan. Mengurus pasir kan memang lebih menjanjikan dan menghasilkan banyak duit bagi warga disini dibanding dengan mengikuti pertemuan atau pelatihan,” tutur Siwi membuka perjumpaan kami di suatu sore ketika aku mengunjungi rumahnya untuk melihat perkembangan Kelompok Tani Obtra Mandiri. Siwi merupakan ketua kelompok yang fokus pada budidaya tanaman obat dan pembuatan obat tradisional.

Kelompok Tani Obtra Mandiri di Dusun Ngemplak berdiri pada awal Juli 2011 karena semangat ibu-ibu yang pernah dilatih tentang pemanfaatan tanaman obat tradisional dan terapi ketuk, yaitu terapi yang menggunakan media jari tangan untuk diketukkan di bagian-bagian tubuh mulai dari kepala hingga ke perut. Mereka melebur dalam kelompok untuk melakukan produksi obat-obatan tradisional bersama-sama, dan menjualnya dari mulut ke mulut di wilayah Dusun Ngemplak maupun di dusun-dusun sekitar. Mudah bagi mereka untuk mendapatkan bahan baku obat-obatan di dusun mereka karena bahan-bahan itu tersedia di sekitar mereka tinggal. Meskipun untuk bahan baku jahe instant mereka memang membelinya di pasar tradisional.

“Apalagi sekarang sering hujan Mbak, jadi masyarakat lebih tidak tenang lagi kalau mereka meninggalkan rumah berlama-lama karena khawatir jika banjir itu datang lagi,” lanjutnya kemudian.

Jelas tergambar dalam ingatanku ketika pertama kali lembaga kami melakukan sosialisasi program di hadapan lebih dari 40 orang perwakilan masyarakat Dusun Ngemplak. Sebelum akhirnya datang hujan deras yang tidak hanya menghanyutkan sepatu cantikku, tetapi juga mengusir pulang hampir 90% peserta yang hadir waktu itu, hingga menyisakan 5 orang saja  bersama si pemilik rumah. Kekhawatiran masih dirasakan ketika turun hujan, karenanya mereka harus bergegas pulang dan berdiam di tenda bersama anggota keluarga lainnya.

Dari 40 lebih peserta yang hadir pada pertemuan tersebut, hanya ada 5 orang laki-laki. Mereka inilah para perangkat dusun, tokoh agama dan tokoh masyarakat. Sedangkan sisanya adalah ibu-ibu yang usianya beragam, mulai dari ibu muda berusia 20 tahunan, hingga ibu yang berusia hampir 80 tahun. Sayangnya, laki-laki yang hadir tidak mengikuti pertemuan sampai selesai, hingga ketika kami menanyakan tentang kemungkinan lembaga kami bisa masuk dan mendampingi dusun ini tidak juga mendapatkan jawaban.

“Kami harus menanyakan kepada bapak-bapak dulu, dan suami kami di rumah, apakah lembaga Mbak bisa mendampingi dusun kami,” ucap salah satu ibu yang hadir. “Tapi sebaiknya ada pertemuan seperti ini lagi khusus untuk bapak-bapak supaya bisa diambil keputusan,” imbuhnya.

Di Dusun Ngemplak, kehadiran laki-laki dalam pertemuan maupun rembug (musyawarah) dusun merupakan hal yang penting, karena kaum laki-laki inilah yang punya peran utama dalam mengambil keputusan. Laki-laki diakui sebagai pihak yang banyak berada di wilayah publik, maka setiap keputusan penting yang menyangkut dusun harus diputuskan melalui pelibatan mereka.

***

Oalah… akar ini bisa dipakai untuk obat to? Padahal selama ini cuma dibuang. Untung saja pak Guru ngasih ilmu ke kami jadi kami bisa tahu dan memanfaatkannya…” ucap bu Kunia, kader kesehatan yang berusia 49 tahun itu dengan lantang. Pak Guru adalah sebutan untuk pak Siswo yang sudah memberikan pengetahuan tentang pembuatan obat tradisional dan terapi ketuk.

“Iya Mbak, banyak sekali akar teki (sejenis rumput) ini tumbuh di sawah-sawah, dan daun-daunan yang ditunjukkan oleh pak Siswo kemarin juga banyak sekali ada di dusun ini. Karena kami tidak tahu makanya tidak pernah dimanfaatkan…” sambung bu Gendhuk, yang juga kader kesehatan dusun Ngemplak. Pak Siswo adalah pelatih pembuatan obat tradisional dan terapi ketuk yang sengaja dipanggil oleh lembaga kami untuk memfasilitasi peningkatan kapasitas masyarakat Dusun Ngemplak dalam budidaya obat. Kegiatan itu dilakukan untuk memberikan aktivitas yang bermakna bagi mereka yang disebut sebagai penyintas bencana.

Dialog-dialog itu singgah di telinga ketika aku mengunjungi Kelompok Tani Obtra Mandiri yang sedang menyiapkan produksi VCO (virgin coconut oil), minuman jahe instant, salep kulit, masker wajah, tetes mata, param kocok dan minyak gosok. Mereka melakukan produksi yang cukup banyak sore itu sebagai persiapan untuk melakukan pameran pada acara peresmian sebuah gedung TPA (Taman Pendidikan Al-qur’an) yang merupakan bantuan dari walikota Jakarta Selatan.

Memamerkan hasil karya kelompok dalam acara peresmian TPA yang rencananya akan dihadiri oleh jajaran orang-orang penting di pemerintah kabupaten Magelang menurut mereka adalah strategi pemasaran yang efektif. “Kan bagus Mbak kalau pejabat-pejabat itu datang dan melihat produk kami, lalu membeli, dan mereka bisa ikut mempromosikan ke orang lain juga…” ucap bu Siwi, ketua Kelompok Obtra Mandiri mengemukakan alasan tentang kegiatan pameran yang mereka lakukan secara mandiri tersebut.

Bu Kunia, bu Gendhuk, bu Siwi  serta 8 perempuan lainnya nampak larut dalam kesibukan penyiapan produk-produk obat tradisional yang akan mereka pamerkan. Dua orang ibu terlihat sedang tekun mengaduk wajan berisi adonan jahe instant yang masih cair, dua orang lagi tengah antri di depan moncong ceret air yang sedang mendidih sambil membenahi plastik segel. Ujung/moncong ceret mendidih itu akan membantu melengketkan segel di botol-botol obat tetes mata yang ada di tangan mereka.

Di sudut beranda rumah bu Siwi yang dijadikan sebagai posko Kelompok Tani Obtra Mandiri tersebut ada 2 kumpulan ibu yang duduk mengelilingi panci berisi cairan tetes mata dan di bagian lain ada panci berisi cairan param kocok dan minyak gosok. Beberapa ibu lainnya sibuk dengan pengepakan salep kulit dan masker wajah. Ibu-ibu tersebut melakukannya dengan tekun dan senang hati. Sesekali deretan gigi mereka tampak disertai dengan suara tertawa lepas.

Kelompok Tani Obtra Mandiri tidak hanya menjadi kelompok untuk memproduksi obat tradisional, tetapi bisa juga menjadi ajang curhat dan tempat untuk saling memberikan penguatan bagi anggotanya. Kisah warga yang rumahnya rusak, lahannya hilang dan tertimbun pasir, kolam ikan yang tidak lagi tampak, sekilas tidak terbaca dalam rentetan aktivitas yang sedang mereka tekuni sekarang. Semua tampak normal dan sangat biasa. Mereka terlihat sebagai sosok-sosok perempuan dusun yang sedang menekuni hobi baru untuk mempromosikan manfaat tanaman obat untuk membantu pengobatan. Sejenak, deretan tenda di lapangan Nglaseman mereka lupakan.

Lembaga kami berhasil masuk ke Dusun Ngemplak melalui media pelatihan obat tradisional dan terapi ketuk. Banyak tanaman obat yang bisa ditemui di dusun Ngemplak namun hanya tanaman mahkota dewa yang dimanfaatkan dan dijadikan barang jualan hingga ke Surabaya. Akan tetapi, tanaman lain yang juga memiliki banyak manfaat justru diabaikan, seperti rumput teki, dan akar sidagori misalnya.

***

“Dulu saya itu orang yang jarang bergaul dengan tetangga Mbak, karena saya dan suami sangat sibuk dengan bisnis kecil kami. Sebelumnya saya tidak terlalu dekat dengan ibu-ibu yang menjadi anggota kelompok ini. Tetapi saat ini apa yang saya sarankan kepada mereka selalu didengar. Saya mudah menggerakkan mereka,” tutur bu Siwi sambil ia merapikan produk-produk obat tradisional yang dipajang di atas rak kayu karya bu Gendhuk.

“Kira-kira sebulan yang lalu kami bertiga menggerakkan ibu-ibu anggota kelompok untuk membersihkan lahan. Kami menarik air melalui selang air dari rumah ini untuk mengairi lahan demplot/lahan contoh untuk penanaman tanaman obat. Ibu-ibu juga penuh semangat mencangkul tanah dan membuang pasir yang masih ada di lahan itu,” kenang bu Siwi.

“Mbak, lihat rak kayu kami ini, kan?” bu Siwi menoleh ke arahku.“ Percaya tidak kalau ini bu Gendhuk yang bikin?” ucap bu Siwi sambil tertawa keras-keras. Bu Kunia mengangguk-angguk membenarkan pernyataan bu Siwi. Sayangnya, tokoh yang dimaksud tidak berada bersama kami. Biasanya ketika kami berkunjung ke Kelompok Tani Obtra Mandiri, 3 wanita yang biasa kami juluki sebagai Trio Kwek-kwek itu akan selalu ada di posko, tetapi kali ini tidak. Bu Gendhuk sedang melaksanakan tugasnya, membeli rosok dari dusun-dusun sebelah untuk dijual ke juragan rosok. Begitulah cara bu Gendhuk, wanita berumur 40 tahunan itu menghidupi anak-anaknya paska ditinggal kawin lagi oleh suaminya.                                                                                                                                                                                                                                                    & nbsp;                                                                                                                                                                                                                                                               & nbsp;                                                                            

“Iya lho Mbak, dik Siwi dan dik Gendhuk itu yang beli papan cor ke toko bangunan. Lalu dik Gendhuk yang mengendarai motor dan dik Siwi yang memegangi papan-papan cor itu di belakang yang sesekali harus bertahan dengan hempasan angin. Seru dan lucu wis Mbak! Kami sangat semangat untuk mengembangkan kelompok obtra ini” ujar bu Kunia penuh semangat. Di antara mereka bertiga bu Kunia lah wanita yang paling tua. Usianya hampir separuh abad.

Semangat mereka yang selalu berada di depan dan berperan sebagai motivator bagi anggota kelompok lain itu menawarkan strategi kemudahan untuk melakukan pengorganisiran masyarakat dusun Ngemplak. Bahkan Pak Kadus menjadikan mereka sebagai mandor dalam kegiatan padat karya pada proyek pembersihan saluran irigasi yang didanai PNPM Mandiri dengan nominal 100 juta. Tidak hanya itu, setiap kegiatan-kegiatan besar di dusun, mereka inilah yang menjadi tokoh kunci yang bisa menggerakkan masyarakat untuk ikut berpartisipasi.

“Kami sangat yakin obat tradisional ini bisa berkembang Mbak. Kemarin kami sudah membagikan pendapatan dari hasil penjualan obat tradisional ini kepada seluruh anggota. Penjualan melalui mulut ke mulut dan melalui pameran sudah cukup baik. Memang sih, hasilnya belum seberapa. Tetapi kami sudah bisa mengganti biaya modal yang dulunya kami pinjam dari Pak Kadus senilai Rp. 1.000.000, dan sudah bisa membagikan hasil penjualan kepada anggota meskipun tidak seberapa. Akan tetapi kalau serius pasti hasil penjualannya lebih baik.” bu Kunia memberikan komentar. “Tetapi proses pengurusan ijin IKOT (Industri Kecil Obat Tradisional) harus segera dimulai Mbak, untuk membantu memperluas pasar.” imbuhnya.

“Iya e, kemarin pas kami melakukan pameran, ada pembeli yang berkomentar tentang belum adanya ijin terhadap produk kami ini. Wah tapi ya bagaimana, wong lagi dirintis kok. Ijin bisa sambil lalu kan Mbak, yang penting kami terus berproduksi.” tutur bu Siwi penuh semangat.

Kiprah Trio Kwek-kwek, yaitu bu Siwi, bu Gendhuk dan bu Kunia yang merupakan pelaku utama dari Kelompok Tani Obtra Mandiri itu menjadi sumber semangat bagi warga disekitar mereka tinggal. Mereka melakukan kerja-kerja pengorganisiran tanpa lelah demi perbaikan kondisi masyarakat di sekitar mereka paska bencana dan perbaikan tersebut tidak hanya bagi anggota kelompok mereka. Trio Kwek kwek yakin bahwa dengan kerja keras tidak hanya Kelompok Tani Obtra Mandiri yang bisa berkembang tetapi juga kehidupan masyarakat Ngemplak itu sendiri. Tentu dengan usaha, kekompakan dan kerja sama di antara mereka. Tidak ada yang tidak mudah namun juga tidak ada yang tidak mungkin bagi mereka.

***

*) Susilastuti yang lebih dikenal dengan sebutan Susi lahir di Bantul, 27 Maret 1982 silam. Susi merupakan lulusan fakultas psikologi Universitas Wangsa Manggala Yogyakarta atau yang saat ini berganti nama menjadi Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Staff YAKKUM Emergency Unit (YEU) ini sekarang tengah bertugas untuk melakukan pendampingan bagi masyarakat terdampak erupsi Merapi baik di Kabupaten Sleman Yogyakarta maupun di Kabupaten Magelang Jawa Tengah khususnya untuk kesiap-siagaan dan pengarusutamaan psikososial. Sebelumnya ia pernah bertugas di Aceh Barat, Padang, Pulau Nias dan berada sebentar di pengungsian korban Lumpur Lapindo, Porong Sidoarjo.

Sebelum bergabung dengan YEU  pada 2006 lalu, ia pernah aktif di beberapa organisasi. Menjadi relawan pada Rumah Singgah Anak Mandiri yang fokus pada pendampingan anak jalanan, relawan Transparency International Indonesia (TII) untuk pemantau dana kampanye, dan bergabung dengan GRANAT (Gerakan Nasional Anti Narkotika) Yogyakarta adalah pengalaman yang dimilikinya. Saat duduk di bangku kelas 2 SMA, ia pernah menjadi juara I dalam lomba penulisan essay untuk kategori umum yang diselenggarakan oleh Jamasba (Jamaah Masjid Bantul) Ramadhani. Tiga buah tulisannya diterbitkan dalam buku bertajuk “Pembelajaran dari Nias” yang diterbitkan oleh YEU pada pertengahan tahun 2011 ini. Susi dapat dihubungi melalui email susiparis@yahoo.com.

 

About oaseindisasters

Oase in Disaster - Yakkum Emergency Unit This blog is official blog of Yakkum Emergency Unit Member of ACT Alliance and Member of Humanitarian Forum of Indonesia. The contents of this blog covers the YEU's activities related to emergency responds activities in Indonesia. Currently, we are working in emergency respon in three different areas; to respond Wasior flash-flood affected people in Manokwari, West Papua, tsunami-Mentawai affected people in Mentawai, West Sumatera, and Merapi Volcano Eruption in Central Java and Yogyakarta. At the national level, we are coordinating within the network of Humanitarian Forum of Indonesia (HFI) and at the International level we're coordinating with Global Network for Disaster Reduction and ACT Alliance. Email: yeu@yeu.or.id Follow us in twitter @yeu2001 www.yeu.or.id www.actalliance.org www.humanitarianforumindonesia.org
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Trio Kwek-Kwek, Srikandhi Dusun Ngemplak

  1. Nicholas says:

    Wow…kesempatan yang menarik sekali bisa latihan menulis.Sukses Sus….hope u’ll meet your sun soon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s