Salam Natal dari Papua : DAMAI DI PAPUA, DAMAI DI BUMI …



Tergelitik untuk menyumbang sekelumit pengalaman dan permenungan atas Tanah Papua dalam obrolan santai tapi berbobot. Memberikan pemahaman kondisi Tanah Papua dari pandangan mata pendatang nan awam. Semoga tulisan ini masih relevan untuk dibaca bersama …

Tulisan ini bukan kajian jurnalis apalagi ilmiah, sekedar obrolan pelengkap menu camilan kasbi, petatas dan pisang goreng (minus papeda). Semoga menjadi kenyang dan senang setelah mengunyah menu ala Papua.

Diceritakan dari beranda kantor YEU Wasior (seseorang menyebutnya rumah kayu Barbie, karena yang mendiami se-imut paras Barbie … GLEK!) sambil menyeruput kopi pahit dan melempar pandang ke kondisi sekeliling yang majemuk:

·      ketika banyak warga penghuni huntara di Kabupaten teluk Wondama sudah lelah meneriakkan hak untuk mendapatkan kembali kehidupan bermartabat;
·     ketika proses rehabilitasi-rekonstruksi sudah kehilangan esensi sebagai “obat pemulih” dan menjadi “kue ultah bencana” menunggu dipotong-potong sesuai dengan porsi kepentingan, membiarkan penyintas menjadi penonton pesta hingga kuenya kandas;
·         ketika rasa aman harus dibayar dengan teror psikologis melalui kabar berantai secara sistematis;
·         ketika persoalan mendasar kemanusiaan, kesehatan dan pendidikan belum dibangun di atas pondasi yang kuat (teringat pendampingan di suatu SD Inpres di Manokwari yang hanya dilayani 2 guru untuk mengajar 6 kelas!);
·         dan ketika alam masih menunjukkan kuasanya atas manusia dalam wujud banjir skala mini yang menggenangi mess bujang laki-laki tengah malam pada tanggal 1 Desember 2011, dan kantor menjadi penampungan satu malam bagi 4 orang penyintas dadakan.

Sebagai menu pembuka obrolan, disuguhkan “Kasbi Kebudayaan, Keragaman dan Keberagamaan”.

Enak disantap sambil bernostalgia membayangkan Papua sebagai tanah yang kaya bukan dari sisi mineralnya saja, tetapi juga kaya budaya asli yang arif terhadap lingkungan. Ibu Bumi telah menyediakan segala kebutuhan pokok manusia di Papua secara percuma; kelimpahan air, kayu hutan, kasbi, petatas, pisang, sagu, sirih, pinang, daging babi hutan, daging rusa, daun gedi, dan dedaunan lain untuk masak sayur garnisun . Ayah Teluk juga memberi kelimpahan ikan. Secara bersahaja si anak-anak Papua mengambil seperlunya tanpa perlu takut akan kehabisan sumber hidupnya. Pergi ke kebun, ladang maupun laut dimaknai sebagai kerja dan bakti seluruh anggota keluarga, orangtua dan anak-anaknya, sambil sesekali ditemani anjing peliharaan yang kurang terawat dan penuh kaskado (penyakit kulit yang menyebabkab lapisan kulit terkelupas). Noken (tas/keranjang tradisional), parang, panah, busur dan pancing disandang untuk mengambil hasil Ibu Bumi dan Ayah Teluk.

Tanah, sungai, danau dan hutannya dikelola dengan aturan adat melibatkan beberapa marga. Batas-batas kepemilikannya disepakati bersama dan akan selalu diingat hingga anak-cucu-cicit. Nilai sepetak tanah terletak pada fungsi sosial yang dibangun di atasnya, untuk berladang, berkebun, beribadat, berketurunan dan berkumpul.

Relasi dengan para pendatang adalah bentuk toleransi yang sudah ada sejak berabad lalu, jauh sebelum para misionaris Kristen kebangsaan Eropa menjejakkan kaki di pesisir pantai Papua. Pendatang awal terutama banyak berasal dari pulau-pulau tetangga seperti suku bangsa Biak, Bugis/Makasar, Toraja, Buton, Maluku, dan bahkan keturunan Cina. Relasi awal ini dibangun berdasarkan kebutuhan niaga dan relasi dengan kekuasaan kerajaan Ternate-Tidore. Warisan mereka dapat dijumpai di hampir semua kota besar di Papua, sudah beranak-pinak dan menjadi “orang Papua”.

Gelombang berikut adalah pendatang misionaris dari Belanda dan Jerman dengan tujuan penyebaran warta agama Kristen. Bukti-bukti keberadaan dan ajaran mereka masih tampak dalam simbol dan ritual. Contoh konkrit, tiap tanggal 5 Februari masyarakat dari segala penjuru Papua berkumpul di Pulau Mansinam (ditempuh dalam waktu 10 menit naik perahu dari kota Manokwari) untuk memperingati kedatangan penginjil pertama yang datang pada 5 Februari 1855. Berdasarkan sejarah ini Manokwari mendapat julukan “Kota Injil”. Pendaratan misionaris berikutnya adalah ke Teluk Wondama, 10 tahun setelah pendaratan di Pulau Mansinam, tepatnya di Kampung Maniwak yang kemudian dijadikan sebagai zeending (tempat pengajaran soal ilmu agama dan ilmu pengetahuan pada umumnya). Oleh karenanya, tempat ini mendapat sebutan “Tanah Peradaban”. Gelombang pendatang dalam beberapa dasawarsa terakhir adalah para transmigran yang kebanyakan berasal dari Jawa, Bali dan Sumatra. Mereka mendiami lokasi transmigrasi di seluruh penjuru Papua dan secara perlahan beradaptasi dan berakulturasi dengan tanah pijakan hari depan mereka.

Masyarakat Papua menjunjung tinggi nilai adat dan religi sama seperti masyarakat Minangkabau memaknai peribahasa “adat bersendi syari’at, syari’at bersendi Kitabullah (Al-Quran)”. Salah satu filosofi dari Papua yang sangat menarik berkaitan dengan keterhubungan ini disimbolkan dalam “tungku di atas tiga batu”. Tungku dikiaskan sebagai masyarakat Papua yang disokong oleh tiga kelembagaan penopang kehidupan kemasyarakatan, yaitu adat, agama dan pemerintah. Ketika salah satu penopang hilang, maka tungku akan tumpah, yang bisa diibaratkan terjadinya kekacauan atau ketidakseimbangan dalam masyarakat.

Camilan berikutnya adalah “Petatas Peretas” yang keras di luar dan rasanya getir di dalam.

Makanan ini kurang begitu disukai karena menimbulkan perasaan kemarahan dan kesedihan, menjadi pengingat persoalan tumpang-tindih yang mengoyak jatidiri bangsa Papua, baik karena  faktor eksternal maupun internal.

Faktor eksternal dapat dijabarkan sebagai berikut. Sejak penyerahan Nederlandse Nieuw Guinea (New Guinea Barat pada saat itu) oleh Kerajaan Belanda kepada Republik Indonesia pada 1963, dilanjutkan dengan Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) tahun 1969 hingga tumbangnya Orde Baru di tahun 1998, wilayah Papua diselimuti stigma kuat oleh pergerakan kemerdekaan dan pelabelan separatis kepada sekelompok orang. Hal ini tidak lepas dari pendekatan yang diterapkan oleh pemerintah pusat kala itu, yaitu melalui pendekatan militer yang cenderung represif. Alih-alih untuk menciptakan keamanan, ketertiban dan kedamaian; pendekatan ini menciptakan jarak, menumbuhkan ketidakpercayaan, dan meluluskan sejumlah konflik yang sudah pasti menghambat pembangunan untuk kesejahteraan hidup masyarakat Papua. Periode ini telah menyemai bibit kekerasan dan merubah sejumlah perilaku budaya. Seperti tampak pada parang, panah dan busur yang pada awal dimaknai sebagai alat berburu dan meramu, telah berubah nilai dan fungsinya sebagai alat untuk mempertahankan terirori dan menjamin keamanan dalam suatu konflik.

Perilaku pemangku kebijakan pusat turut menodai rasa keadilan dengan penetapan kebijakan yang tidak strategis dan kurang memihak penduduk asli Papua. Contoh nyata adalah ijin pengelolaan sumber tambang dan sumber daya alam untuk pemodal luar melalui mekanisme yang tidak jelas sisi partisipasi dan transparansinya. Nilai manfaat yang dirasakan penduduk Papua sangat minim jika dibandingkan dengan nilai keuntungan materiilnya, karena keuntungan besar sudah barang tentu kembali ke pemilik modal dan kroninya. Lihat ulasan kajian tambang Freeport dan perusahaan kelapa sawit Medco. 

Pada tahun 2001, di bawah periode Orde Reformasi dicanangkan kebijakan Otonomi Khusus (Otsus) untuk Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Dana dikucurkan deras dengan dalih pencapaian kesejahteraan masyarakat Papua. Pada kenyataannya, dana sebesar Rp. 28,84 Triliun (anggaran dari tahun 2001-2011) banyak menguap untuk kebutuhan yang tidak strategis, dan besar kemungkinan telah digerogoti korupsi. Hal ini ditengarai karena kurangnya kontrol dan ada indikasi pembiaran oleh pemerintah pusat, sehingga membuat perilaku pemangku kebijakan daerah melakukan pengelolaan anggaran tanpa ukuran yang jelas dan sering tidak strategis. Periode ini menyemai bibit ketidakadilan.

Dalam waktu segera, pemerintah pusat mencanangkan program Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B). Apa kiranya yang akan disemai dalam periode ini? Kita akan melihat seiring waktu.

Faktor intenal dipicu karena adanya pergeseran nilai-nilai hidup dan kemanusiaan. Ketika relasi dinilai oleh pamrih dan materi semata. Ketika hak masih menjadi mimpi kosong. Ketika kekerasan menjadi cara pemecahan masalah.

Keberagaman suku bangsa dan budaya di atas Tanah Papua selama berabad ternyata tidak menjadi jaminan kerukunan antara penduduk asli Papua dan pendatang. Bahkan di antara penduduk asli Papua (baca: ras Melanesia) masih ada pembedaan-pembedaan berdasarkan teritori kesukuannya. Dalam pengamatan, interaksi antara pendatang dan orang asli Papua dapat menumbuhkan dominasi, di mana para pendatang biasanya memiliki pengaruh di ranah tertentu, seperti niaga di kota-kota besar dan pertanian bagi transmigran di daerah pelosok. Dominasi yang kentara dan memicu ketimpangan mampu menimbulkan rasa tersisihkan/marjinalisasi, yaitu warga asli Papua.

Pemerintah daerah di provinsi Papua dan Papua Barat hingga kini masih memiliki catatan pekerjaan rumah (PR) berkaitan dengan pemenuhan kewajiban untuk kesejahteraan dasar masyarakat di bidang kesehatan dan pendidikan. Pembangunan selama kurang lebih 40 tahun ini belum berjalan optimal dan masih menyisakan persoalan klasik seperti rendahnya kualitas kesehatan dan pendidikan, hingga berlanjut pada persoalan kemiskinan. Pelaksanaan pemerintahan daerah juga ternodai oleh sejumlah kasus penyelewengan/korupsi yang secara signifikan menurunkan rasa kepercayaan warga terhadap penyelenggaraan pemerintahan. Dalam kaitannya dengan kondisi di Wasior, terutama warga penyintas yang masih tinggal di huntara, penurunan kepercayaan kepada pihak pemerintah Kabupaten Teluk Wondama terlihat jelas dari pernyataan berkaitan dengan belum tuntasnya pemenuhan kebutuhan dan hak warga penyintas; soal jadup dan hunian tetap.

Dalam pengamatan lebih lanjut, keberadaan pranata dan perangkat adat dalam beberapa kasus belum mampu menjadi pengayom masyarakat seperti yang diharapkan dalam filosofi “tungku di atas tiga batu”. Dalam masa pembangunan yang marak di Papua ini (dengan limpahan Otsus), beberapa pihak yang mengatasnamakan adat hendak turut mendapatkan pamrih ketika berurusan dengan lahan adat. Sekali peristiwa, pembangunan tiang dan kabel listrik yang hendsak menerangi seluruh kampung di Igor, distrik Masni, Kabupaten Manokwari, menghadapai kendala dan terbengkalai. Hal ini dikarenakan belum tuntasnya “pembayaran adat” atas tiang-tiang listrik yang ditancapkan di tanah adat tersebut. Akibatnya hingga saat ini penduduk di Igor belum mendapatkan layanan listrik selayaknya. Para penyintas di Wasior juga harus berurusan dengan ranah adat ketika hunian sementara (huntara) berdiri di atas tanah adat, sehingga ketentuan adat yang berlaku di atas tanah tersebut harus dipatuhi oleh semua penyintas, dan semakin lama terkesan membatasi ruang gerak dan ruang sosial warga penyintas. Bahkan dalam beberapa kesempatan timbul kontak fisik karena perbedaan kepentingan adat dan penyintas di huntara.     

Untuk penutup, camilan yang hangat dan manis, “Pisang Goreng Pengharapan dan Kasih”.

Melihat rupa warna Papua seperti terangkum di atas, maka dirasa sangat penting untuk mencari pijakan bagi masyarakat Papua dalam menuju pembaharuan dengan tetap mengedepankan karakter ke-papua-an. Adalah filosofi “tungku di atas tiga batu” yang (seharusnya) menjadi identitas Papua dalam arti yang sesungguhnya; di mana pranata sosial-budaya-religi-politik seperti adat, agama dan pemerintahan saling sokong mengayomi masyarakat.

Dalam praktiknya, ketiga pranata ini masih menemui kendala untuk bersinergi dengan  kecenderungan saling silang kepentingan. Di lain pihak, masyarakat memiliki kehidupan keagamaan yang disiplin, sehingga pranata agama, secara khusus pihak gereja-gereja di Papua, mampu memainkan peran sebagai mediator dan motivator bagi proses pembaharuan melalui “penyembuhan” relasi antara masyarakat-adat-pemerintah. Gereja punya kapasitas untuk memainkan peran tersebut mengingat persekutuan gereja di Tanah Papua, terutama Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua, memiliki pengaruh dan mampu merangkul semua pihak dengan landasan kasih.

Dalam konteks yang lebih luas lagi, tim LIPI pada tahun 2009 telah merumuskan sejumlah rekomendasi bagi proses pembaharuan di Papua. Proses pembaharuan yang dimaksud adalah transisi dari masa konflik menuju kondisi paska konflik guna mencapai Papua Baru. Analisa yang dipaparkan menyebutkan bahwa hingga saat ini pun Papua masih dalam situasi konflik. Rumusan dari LIPI yang biasa disebut Papua Road Map ini menawarkan skema pendekatan sebagai berikut:
v  Rekognisi : upaya pemberdayaan orang asli Papua untuk menghilangkan stigma marginalisasi dan diskriminasi
v  Paradigma Baru Pembangunan : strategi dan kebijakan yang mendorong kemakmuran dan kesejahteraan penduduk Papua
v  Dialog : menjembatani komunikasi bagi pelurusan sejarah integrasi dan status politik warga Papua
v  Rekonsiliasi dan Pengadilan HAM : penindakan bagi kekerasan negara dan pelanggaran HAM

Keempat skema pendekatan tersebut telah disampaikan kepada pemerintah dan diterbitkan secara luas untuk khalayak. Belum terlambat untuk memulainya, masih ada UP4B yang diharapkan mampu membawa semangat pembaharuan dengan mengusung skema tersebut bagi perwujudan Papua Baru.

Pada akhirnya, segala perencanaan yang dikonsepkan oleh pihak dari luar Papua akan kehilangan arti jika tidak dipahami dan didukung orang-orang Papua sendiri. Pengharapan akhir adalah orang-orang Papua sendiri yang menjadi penentu pembaharuan Papua, bukan lainnya.

Sekelumit suguhan ala Papua ini disampaikan dalam suasana penantian Natal dimana umat manusia, terkhusus saudara-saudari di Papua, mendambakan pengharapan dan kasih. Pengharapan akan uluran tangan juruselamat-juruselamat kecil bagi terciptanya damai di Papua, damai bagi dunia dan damai di hati. Momentum Natal ini juga menjadi pengingat akan indahnya kasih Tete Manis (Tuhan Allah) di atas Tanah Papua seperti tersirat dalam lagu ini:

Di sana pulauku, yang kupuja s’lalu
Tanah Papua, pulau indah
Hutan dan lautmu, yang membisu s’lalu
Cenderawasih, burung emas

Gunung-gunung, lembah-lembah yang penuh misteri
Kau kupuja s’lalu, keindahan alam-Mu yang mempesona
Sungaimu yang deras, mengalirkan emas
Sio…ya Tuhan, terima kasih

d c

Segenap Tim YEU Wasior mengucapkan
Selamat Natal 2011 dan Tahun Baru 2012
bagi kawan-kawan sekalian di manapun berada…

Wasior, 23 Desember 2011

Anastasia Maylinda

YAKKUM Emergency Unit (YEU)

Jl. Saberi, Puncak Kambumi
Distrik Wasior
Kabupaten Teluk Wondama
Provinsi Papua Barat
INDONESIA

Be content with what you have; rejoice in the way things are. When you realize there is nothing lacking, the whole world belongs to you” (Lao Tze)

About oaseindisasters

Oase in Disaster - Yakkum Emergency Unit This blog is official blog of Yakkum Emergency Unit Member of ACT Alliance and Member of Humanitarian Forum of Indonesia. The contents of this blog covers the YEU's activities related to emergency responds activities in Indonesia. Currently, we are working in emergency respon in three different areas; to respond Wasior flash-flood affected people in Manokwari, West Papua, tsunami-Mentawai affected people in Mentawai, West Sumatera, and Merapi Volcano Eruption in Central Java and Yogyakarta. At the national level, we are coordinating within the network of Humanitarian Forum of Indonesia (HFI) and at the International level we're coordinating with Global Network for Disaster Reduction and ACT Alliance. Email: yeu@yeu.or.id Follow us in twitter @yeu2001 www.yeu.or.id www.actalliance.org www.humanitarianforumindonesia.org
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Salam Natal dari Papua : DAMAI DI PAPUA, DAMAI DI BUMI …

  1. matahari says:

    Linda, thanks for beautiful sharing and thoughts. What a moment to celebrate Christmas in Wasior. Believe you n other beloved friends in Papua are well and sound. Wish Papua Hopeful Years ahead

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s