PEMBANGUNAN VERSUS KEARIFAN LOKAL

Mr_dorus_saba_in_yellow_vest_d

PEMBANGUNAN versus KEARIFAN LOKAL
(oleh Arnice A. Ajawaila)

Sebuah pesan disampaikan oleh Bapak Dorus Saba yang berasal dari Kampung Manopi di Teluk Wondama setelah selesai pelatihan Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Masyarakat yang difasiliasi oleh YAKKUM Emergency Unit (YEU).

 Ibu dan Bapak dari tim YEU yang mendampingi kami, tolong dengarkan saya sebagai orang tua di kampung Wondamawi[1] ini. Saya menitipkan pesan yang sangat penting untuk disampaikan kepada Pemerintah dan kontraktor supaya ketika membangun Teluk Wondama harap perhatikan tempat-tempat keramat yang ada di sini. Karena jika dilanggar, maka  yang akan menderita dan rugi adalah kami juga. Alam akan marah kepada kami dan akan terjadi bencana lagi ”.

Pengantar
Kabupaten Teluk Wondama, atau yang lebih dikenal dengan Wasior saja, sarat dengan wilayah dan simbol sakral yang selaras dengan cerita-cerita nenek moyang. Tanah,bukit, batu, sungai, rumput/alang-alang, hutan, gua dan bunyi-bunyian memiliki kekuatan gaib[2] yang secara rasional tidak dapat diterima, namun fakta menunjukan bahwa kekuatan itu memang diyakini dan dirasakan oleh masyarakat Wasior.

Keberadaan simbol sakral merupakan warisan nenek moyang yang hidup bergantung pada alam. Alam sumber penghidupan dan sumber kesejahteraan bagi leluhur masyarakat Teluk Wondama sehingga keseimbangan alam merupakan ”TUAN yang perlu dijaga dan dihormati”.  Keyakinan tentang hal-hal yang sakral masih menjadi pegangan bagi masyarakat Teluk Wondama.  Masyarakat hidup dalam upaya menjaga keseimbagan antara alam dan manusia. Makan dari hasil alam, mencari nafkah dari apa yang disediakan alam bahkan untuk membiayai pendidikan anak dan cucu dari hasil alam. Masyarakat meyakini bahwa alam adalah ciptaan Tuhan yang diperuntukkan bagi masyarakat Teluk Wondama guna menghidupi dan melindungi manusia di mendiami Teluk di Kepala Burung.

Percepatan Pembangunan dalam Budaya Lokal
Percepatan pembanguan di tanah Papua sebagai upaya untuk meredam masalah  sosial bahkan politik  berjalan cepat tanpa pengawasan yang layak. Pembukaan lahan hutan, pengambilan material alam, dan aktivitas investasi lainnya datang ke Teluk Wondama dengan mengatasnamakan pembangunan. Atas nama pembangunan yang pada akhirnya mengganggu keseimbangan alam. Pembangunan yang diyakini oleh pemerintah bertujuan untuk kesejateraan masyarakat justru diyakini oleh masyarakat sebagai pembawa malapetaka. Peristiwa banjir bandang 4 Oktober 2010 di Teluk Wondama dipercaya sebagai salah satu penyebab, karena wilayah-wilayah sakral sudah dijamah dan dirusak oleh manusia sehingga alam marah dan mendatangkan malapeta. Ibu Sara Rumadas, salah seorang peserta pelatihan, menyampaikan, “Banjir bandang tersebut dimaksudkan untuk membersihkan semua kotoran atau sampah  akibat ulah manusia.

Warisan leluhur  yang sudah ada sejak dahulu kala hingga saat ini masih diyakini oleh masyarakat Teluk Wondama merupakan kekayaan budaya yang perlu dikembangkan. Tempat keramat maupun cerita rakyat yang dituturkan secara turuntemurun tidak dilihat sebagai mitos tanpa konsekuensi logisnya. Tanah, bukit, sungai, batu, hutan, gua, atau rumput/alang-alang secara rasional memiliki manfaat untuk menjaga keseimbangan alam sedangkan  bunyi-bunyian merupakan pertanda dan pengingat bagi masyarakat Teluk Wondama akan alam dan leluhur mereka [3].

Pada kenyataannya, tempat keramat atau cerita rakyat tidak dilihat sebagai potensi untuk melestarikan alam yang sedang kritis, namun dipandang sebagai ancaman dan penghambat pembangunan.  Sebagai akibatnya, semua sumber daya alam yang tersedia dilegalkan untuk dieksploitasi mengatasnamakan pembangunan dan kesejahteraan. Padahal pembangunan yang ada sebagian besarnya telah menutup akses bagi masyarakat, tidak ada keterlibatan langsung masyarakat, tidak ada tawar-menawar dan tidak ada konsultasi kepada masyarakat sebagai “penjaga” bahkan “pemilik” dari sumber daya yang ada. Masyarakat menjadi penerima pasif  dari sesuatu yang disebut pembangunan. Tempat keramat atau cerita yang diyakini masyarakat adalah mitos dianggap menghambat pembangunan, sehingga seolah-olah tidak ada dan tidak diperlukan. Jika demikian,  ada dua hal yang menjadi bahan permenungan bersama:
  1. Pembangunan untuk apa dan siapa?
  2. Pembangunan yang tidak sensitif terhadap keseimbangan alam merupakan bentuk undangan resmi untuk bencana!
#####
Wasior, Juli 2012

DEVELOPMENT versus LOCAL WISDOM
(by Arnice A. Ajawaila)

A message was delivered by Mr. Dorus Saba from Manopi in Teluk Wondama district, after the completion of Community Based Disaster Risk Reduction (CBDRR) training in the village.

“I would like to extend my message to YEU facilitators. I’m an aged person who wishes to remind the government authority and the contractors to be cautious in the development initiatives; they should not intervene into the sacred places. Once they break the traditional belief, we would suffer from great loss and damage. Nature would avenge through any means possible, including disaster.”

Background
Teluk Wondama district, or commonly labeled as Wasior, is richly attributed with sacred land and sacred symbols in accord with the tales narrated by ancestors. Land, hill, rock, river, grassland, forest, cave and sounds have their own mystical power[4]; that would not be acknowledged with rational judgement. Whereas, past experiences revealed that such power is believed and felt by natives.

The existence of those sacred land and symbols is recognized as inheritance from ancestors who lived in harmony with the nature since long. Nature is perceived as the source of living and welfare of the people in Teluk Wondama, “The Holy Lord should be respected and protected”. The beliefs on sacred materials have been preserved by the people through every day practice; to get the fresh food from nature or to make a living from nature until they are able to pay school tuition and any necessity. The community believes that nature was created by God for the benefit of human kind and for protecting the community settled in Teluk Wondama Bay.

Development Acceleration as Perceived by Local Customs
Development acceleration in Papua is assumed as an approach to reduce the dispute in social and politics sectors, but with only little attention to monitor the progress. The vast land clearing, the mineral exploitation and other infestation initiatives have come to Teluk Wondama for the sake of development. Development has replaced the mystical power; it creates imbalance in nature. Some people suppose that there is a transformation in people’s thinking that development has shifted from its course; it should pursue for people’s welfare, instead, it invites calamity to the people.

4 October 2010, a colossal flash flood hit Wasior and within seconds the casualty was enormous. Some people think that since sacred land and symbols have been disturbed and interrupted by human activity, the nature has its own way to regain respect. Mrs. Sara Rumadas, one of the training participants, stated that the flash flood has its meaning as to cleanse all the human impurity.

Ancestral inheritance, like the beliefs on sacred materials as understood by the people in Teluk Wondama, should be maintained. Sacred places, symbols and even tales characterized in Teluk Wondama are not merely recognized as myths. But, it has logical consequence; the land, hill, rock, river, grassland, forest and cave have their own benefit to balance the nature, while sounds serve as warning signs to the people[5].

Progressive thinking considers those sacred materials and tales are not necessarily preserved since it is viewed as a threat or obstacle in human endeavour to development. Furthermore, they argue that all natural resources should be legally exploited for higher achievement.

Contrary to progressive view, the development process has marginalized the community; they do not have greater opportunity to participate, there is obscure transaction and they do not even bother to consult to the people who acted as “protector” of the natural resources. People are only considered as the “object” of development.

Examining the abovementioned paradox, we come to these reflective conclusions:
  1. What and who will be involved in the development?
  2. Insensitive development initiatives are an invitation to calamity.
#####
Wasior, July 2012



[1] Wondamawi merupakan nama asal kampung Manopi.

[2] Tanah: masyarakat Teluk Wondama mensakralkan Rurah di Manggurai; Bukit: masyarakat Teluk Wodama mensakralkan Kowi di Wondiboi; Rumput: masyarakat Teluk Wondama mensakralkan Papararei di Manggurai; Sungai/kali: orang Mawoi mensakralkan Kali Mawoi, sedangkan orang Manopi Mensakralkan Kali Wanayo; Hutan: masyarakat Teluk Wondama mensakralkan Urere di pedalaman Wombu; Gua: masyarakat Teluk Wondama mensakralkan  Inggorosa di pedalaman Wombu, Batu: masyarakat Teluk Wondama mensakralkan Waibusi di Manggurai dan Atumbere Yomaki di Wondiboi; Bunyi-bunyian: masyarakat Teluk Wondama mensakralkan Karayo di Manopi.

[3] Letak topografi Teluk Wondama diapit oleh pegunungan Wondiboy dan teluk. Kota dan kampung berada di kaki gunung sepanjang garis pantai. Tempat-tempat keramat memiliki penjelasan logis sesuai dengan topografi Teluk Wondama. Tanah keramat sebagian besar adalah tanah gundul yang sangat rentan jika dieksploitasi. Bukit keramat sebagian besar adalah bukit terjal dengan kemiringannya curam sehingga rawan longsor. Rumput-rumput keramat berada di dataran rendah yang mudah dialiri air dari puncak gunung jika curah hujan tinggi, sehingga berisiko untuk kawasan pembangunan karena rawan banjir. Sungai yang memiliki material berguna untuk mencegah dan  meminimalisir erosi dan percepatan air. 

[4] Rurah as sacred land in Manggurai, Kowi as sacred hill in Wondiboi, Papararei as sacred grassland in Manggurai, sacred rivers in Mawoi and Manopi, Urere as sacred forest in Wombu, Inggorosa as sacred cave in Wombu, Waibusi as sacred rock in Manggurai, Atumbere Yamaki as sacred rock in Wondiboi, Karayo as sacred sound in Manopi.

[5] Teluk Wondama is situated in between Wondiboi mountain range and a bay. The villages are located on the slope along the coastline. Sacred land has theirown logical explanation according to the topography characteristics. Most of the sacred land is barren soil and fragile. Sacred hills are mostly steep and prone to landslides. Sacred grassland occupies lower land that is prone to flood when there is high precipitation. Sacred rivers are filled with materials which could minimize land erosion and water pace.

Anastasia Maylinda

YAKKUM Emergency Unit (YEU)

Jl. Samberi-Masabuai
Kampung Maniwak
Distrik Wasior
Kabupaten Teluk Wondama
Provinsi Papua Barat
INDONESIA
Skype: anastasia_maylinda

Be content with what you have; rejoice in the way things are. When you realize there is nothing lacking, the whole world belongs to you” (Lao Tze)

About oaseindisasters

Oase in Disaster - Yakkum Emergency Unit This blog is official blog of Yakkum Emergency Unit Member of ACT Alliance and Member of Humanitarian Forum of Indonesia. The contents of this blog covers the YEU's activities related to emergency responds activities in Indonesia. Currently, we are working in emergency respon in three different areas; to respond Wasior flash-flood affected people in Manokwari, West Papua, tsunami-Mentawai affected people in Mentawai, West Sumatera, and Merapi Volcano Eruption in Central Java and Yogyakarta. At the national level, we are coordinating within the network of Humanitarian Forum of Indonesia (HFI) and at the International level we're coordinating with Global Network for Disaster Reduction and ACT Alliance. Email: yeu@yeu.or.id Follow us in twitter @yeu2001 www.yeu.or.id www.actalliance.org www.humanitarianforumindonesia.org
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to PEMBANGUNAN VERSUS KEARIFAN LOKAL

  1. shinta says:

    Erni and Linda Thanks for bringing this clear message to all of relevant stakeholders for Teluk Wondama’s recovery ! Hope this properly heard and followed,as Gandhi has said "Nature has enough for all’s needs but not for one’s greed" Many warm regards and thoughts for you in Papua from us in Yogya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s